081286968485

Kisah Haru Para Jamaah HajiOleh : AHMAD NURUL IHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Arab Saudi – Rasa bahagia adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kepuasan, dalam keadaan senang, memiliki ketentraman dalam hidup secara lahir dan batin. Kemudian bersyukur dan berbuat ikhlas adalah salah satu cara agar hidup merasakan lebih baik dan bahagia. Para filsuf dan pemikir agama sering mendefinisikan kebahagiaan dalam kaitan dengan kehidupan yang baik dan tidak hanya sekadar sebagai suatu emosi. 

Kebahagiaan itulah terlihat dari ratusan bahkan ribuan jamaah haji yang dapat melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Dibawah ini beberapa hasil liputan kisah haru, antara sedih dan Bahagia dapat ibadah ke tanah suci. 

~Ahmad Nung, 75 tahun

Raut wajah Ahmad Nung tampak sumeringah, saat dirinya dipastikan bisa berangkat untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Lansia asal Lingkungan Telaga Mas, Kelurahan Subagan, Karangasem, Provinsi Bali, sudah bertahun-tahun menabung demi bisa menggapai mimpinya tersebut. "Saya senang sekali, dan bahagia karena akhirnya bisa berangkat naik haji," ujar Nung, Selasa (5/5/2026). 

Perjuangan Nung untuk dapat naik haji tidaklah mudah. Ia harus menabung selama sekitar 20 tahun dari hasil berjualan kaca mata dan asesoris keliling, untuk biaya naik haji. Nung berasal dari keluarga kurang mampu. Sejak berusia 15 tahun, ia mulai membantu ekonomi keluarga dengan jualan kaca mata keliling untuk sekadar makan dan minum.

Setiap hari ia berkeliling menjajakan kaca mata, ke berbagai tempat wisata di Karangasem. Beranjak dewasa, ia memiliki keinginan untuk dapat naik haji. Sehingga ia memiliki tekad untuk menabung. “Setiap hari saya nabung untuk naik haji, kadang Rp.100 ribu, kadang Rp.200 ribu. Kalau dapat jualan, ya disisihkan. Kalau dapat jualan sedikit, tidak nabung, jadi tergantung pendapatan." ujarnya sembari tersenyum. 

~Zainudin, 84 tahun

Salah seorang jemaah haji lansia asal Tegal, Jawa Tengah, harus berangkat sendiri ke Tanah Suci setelah sang isteri dinyatakan tidak memenuhi syarat kesehatan, padahal sudah berada di embarkasi untuk bersiap terbang. Zainudin, 84 tahun, tetap menunaikan ibadah haji setelah menunggu antrean selama 14 tahun. Namun, rencana berangkat bersama isteri batal pada detik terakhir setelah hasil pemeriksaan kesehatan di embarkasi menunjukkan sang isteri tidak layak terbang. 

"Awalnya saya berangkat berdua dengan isteri, tetapi mendadak isteri saya sakit," ujarnya saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Makkah, Arab Saudi. Kondisi kesehatan sang isteri menurun sekitar sepekan sebelum keberangkatan. Dia sempat masih beraktivitas normal, tetapi kemudian tidak mampu berjalan dan harus menggunakan kursi roda. Saat pemeriksaan kesehatan final jemaah haji di embarkasi, petugas menemukan adanya gangguan kognitif yang membuat sang isteri tidak memenuhi syarat istitha’ah kesehatan haji.

~Mbah Marjiyono, 103 tahun

Di usia yang telah menginjak 103 tahun, Mbah Marjiyono akhirnya menuntaskan satu impian terbesarnya, berziarah ke Raudhah, makam Nabi Muhammad Saw, di kompleks Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwaroh yang menjadi dambaan umat Islam dari seluruh dunia. 

Jemaah haji asal Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu tampak haru usai menunaikan ziarah. Dengan suara lirih namun penuh kebahagiaan, ia berulang kali mengungkapkan rasa syukurnya. “Seneng, sampunipun soan Kanjeng Nabi. Hati saya remen, Pak. Remen hati saya (Senang bisa berkunjung ke Kanjeng Nabi, Hati saya bahagia),” ujarnya sederhana, menggambarkan kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. 

Bagi Mbah Marjiyono, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima. Lebih dari itu, ada kerinduan panjang untuk bisa berkunjung ke makam Nabi Muhammad Saw yang akhirnya terjawab di usia senja. 

~ Anggi Ratu Lestari, 13 tahun.

Anggi Ratu Lestari baru berusia 13 tahun menjadi salah satu jamaah termuda di Kelompok Terbang (kloter) 16 Embarkasi Makassar. Jamaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Takalar ini tiba di Asrama Haji Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (1/5/2026). Namun, keberangkatannya bukan sekadar perjalanan ibadah biasa. 

Ada kisah haru yang menyertai langkah kecilnya menuju Baitullah. Ia berangkat menggantikan sang ibu yang telah wafat pada 2022 lalu. Bersama ayahnya, Darwis Daeng Talle, Anggi membawa amanah besar untuk menunaikan ibadah haji yang dulu menjadi impian ibunya. "Sedihnya karena menggantikan ibu, tapi bahagia juga karena bisa berangkat ke Baitullah," kata Anggi.

~Kasma Muskin Nusi,

Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Kasma Muskin Nusi, jemaah calon haji asal Kabupaten Sinjai, untuk menunaikan rukun Islam kelima. Meski harus berangkat dengan satu kaki dan menggunakan kursi roda, Kasma tetap menunjukkan semangat tinggi sebagai tamu Allah Swt di Tanah Suci.

Kasma yang tergabung dalam kloter 17 embarkasi Makassar akhirnya bisa berangkat setelah penantian panjang sejak mendaftar pada 2011. Seharusnya, ia telah berangkat sejak dua tahun lalu, namun kondisi kesehatan memaksanya menunda keberangkatan. “Pendaftaran 2011. Ternyata seharusnya dari dua tahun yang lalu naik haji,” ujar Kasma.

Perjalanan menuju Tanah Suci bagi Kasma bukanlah hal mudah. Ia harus menghadapi penyakit diabetes yang menyebabkan luka serius pada kakinya. Kondisi tersebut terus memburuk hingga akhirnya ia harus menjalani amputasi hingga bagian paha. “Karena penyakit gula, luka di kaki, airnya naik sampai ke lutut. Diamputasi sampai di paha,” ungkap Kasma.

Tidak hanya kehilangan kaki, Kasma juga mengalami pelemahan pada tangan kanannya, yang membuat aktivitas sehari-hari menjadi semakin terbatas. Kini, Kasma harus mengandalkan kursi roda untuk beraktivitas. “Alhamdulillah, bahagia… karena bisa naik haji tahun ini,” kata Kasma. 

~Zaakiyah Amaliah,13 tahun.

Di antara 393 jemaah haji Kabupaten Soppeng yang tergabung dalam Kloter 21 Embarkasi Makassar (UPG) musim haji 2026, dua sosok menjadi pusat perhatian. Zaakiyah Amaliah, remaja berusia 13 tahun, dan Rusna Lahemma, nenek berusia 91 tahun, membuktikan bahwa panggilan ke Tanah Suci tidak melihat batasan angka usia. 

Keduanya merupakan jemaah haji termuda dan tertua dari Kabupaten Soppeng tahun ini, melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU, keberangkatan mereka membawa narasi perjuangan dan keteguhan niat yang mendalam.

Zaakiyah menuntaskan impian sang ibunda. Keberangkatan ini adalah sebuah amanah besar. Siswi kelas 1 Madrasah Tsanawiyah ini terbang ke Baitullah untuk menggantikan porsi haji almarhumah ibundanya yang wafat pada April tahun lalu. “Ibu meninggal tahun lalu. Senang dan sedih bisa menggantikan ibu,” tutur gadis kelahiran 2012 tersebut dengan nada pelan namun tegar. 

Ayah Zaakiyah, Aliyas Talib Musa, mengungkapkan rasa haru yang mendalam. Keluarga ini telah menanti selama 15 tahun untuk bisa berangkat. Namun, takdir berkata lain bagi sang isteri yang kesehatannya memburuk pada November 2024 sebelum sempat menginjakkan kaki di Mekkah. “Alhamdulillah, senang dan bahagia saya bisa memenuhi panggilan kedua tahun ini. Meski sedih karena isteri telah tiada, bimbingan manasik yang kami jalani bersama menjadi bekal untuk saya mendampingi Zaakiyah,” ungkap Aliyas dengan mata berkaca-kaca.

~Rusna Lahemma, 91 tahun.

Kerinduan di Senja Usia. Rusna Lahemma menjadi simbol ketahanan fisik dan spiritual. Di usianya yang hampir menyentuh satu abad, jemaah yang lahir di masa penjajahan ini harus melewati verifikasi dan pemeriksaan kesehatan berlapis dari tim medis embarkasi sebelum dinyatakan layak terbang. 

Kehadiran Rusna di Kloter 21 menegaskan bahwa kerinduan pada Baitullah tidak pernah padam meski usia telah senja. Tim kesehatan memberikan perhatian ekstra guna memastikan kondisi fisiknya yang merupakan jemaah haji lansia itu tetap stabil selama menjalankan rukun Islam kelima tersebut.

Rusna mengaku keinginan naik haji timbul saat dia berusia 50 tahun atau sejak tahun 1982. "Waktu itu saya berdo’a, 'Ya Allah saya ingin naik haji, tetapi tidak punya apa-apa. Mudahkanlah'," tutur Rusna saat ditemui di kediamannya di Tanjung Batu Timur, Selasa (30/5/2023). 

Kini saat keinginannya telah tercapai, Rusna berharap dapat menjadi haji mabrur dan senantiasa diberikan kesehatan setelah pulang dari Tanah Suci. "Saya hanya berdo’a ingin sehat wal afiat saja. Pokoknya bisa menjalani hari tua, ibadah lebih baik," ucapnya.

Tentu saja harapan dan do’a kita semua, semoga Allah Swt memberikan kesehatan, kekuatan, kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan ibadah haji sehingga dapat menunaikan ibadah dengan sempurna dan mendapatkan amal ibadah haji mabrur dan mabruroh. 

Selamat menunaikan ibadah haji, semoga Allah Swt melindungi setiap langkah, melancarkan seluruh rangkaian ibadah, dan mengembalikan dengan penuh keberkahan.

Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds