Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa
Allahu Robbirham murobbii ruuhinaa (Ya Robbanaa)
Ya Badrotim ya badrotimmin haza kulla kamaali
Maaza yu'a maaza yu'abbiru 'an 'ulaaka maqoalii
Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa
Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guru kami,
Ya Allah Tuhanku, rahmatilah pendidik jiwa kami (wahai
Tuhanku)
Wahai bulan purnama yang indah lagi sempurna
Ketinggianmu tidak bisa terungkap dengan kata-kata
Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guru kami,
Boponter – Syair diatas
merupakan do’a, rasa rindu dan kesedihan kami atas wafatnya orangtua, sekaligus
guru kami tercinta Abuya KH. Abudin Somad bin KH Abdurrahman Fadhil pada Kamis,
2 April 2026 M / 13 Syawal 1447 H, beliau selaku Pembina dan Pengasuh Pondok
Pesantren YPI Ar Rahmaniyyah Bojong Pondok Terong, Cipayung, Kota Depok. Juga
selaku Ketua Penasehat DKM Masjid Jami’ Al-Ittihad dan pengisi kajian rutin
Taklim Malam Senin di Masjid Jami’ Al Ittihad. Kepulangan beliau ke Rahmatullah
merupakan kesedihan bagi segenap pengurus DKM Masjid dan seluruh jamaah, atas
bimbingan beliau jamaah memahami hukum-hukum dan tata cara ibadah yang baik.
Kesedihan begitu dalam bagi
pengurus DKM Masjid Jami’ Al Ittihad dan jamaah sangat berlapis, karena
sebelumnya Abuya KH. Raden Zarkasih Amin bin KH. Muhammad Amin telah pulang ke
Rahmatullah pada tahun 2025, beliau pengisi kajian rutin Taklim Malam Rabu Unit
Nurul Bayan Masjid Jami’ Al Ittihad melanjutkan ayah dan kakek beliau sejak 40
tahun yang lalu.
Merenungi dan selalu mengingat pembahasan yang pernah disampaikan oleh kedua
guru diatas, dalam kajian kitab Nashaihul ‘Ibad, Bab I, karya Syekh Nawawi
Al-Bantani menyajikan sebuah analogi filosofis tentang hakikat keberadaan
manusia di dunia. Hal ini bukan sekadar membahas relasi sosial, melainkan
mengajak pembaca untuk melakukan refleksi eksistensial mengenai tujuan akhir
kehidupan. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan sarat peringatan (tanbih),
nasihat ini menekankan bahwa dunia hanyalah tempat perlintasan sementara, dan
kecerdasan sejati seorang hamba diukur dari sejauh mana ia mempersiapkan diri
untuk perjalanan panjang menuju keabadian, (Al-Bantani, 2016).
Dan “Barangsiapa memasuki
kubur tanpa membawa bekal (amal shaleh), maka seolah-olah ia mengarungi lautan
tanpa perahu.” (Al-Bantani, 2010). Analogi “lautan” dan “perahu” ini
menggambarkan betapa mengerikannya kondisi seseorang yang menghadapi pengadilan
Ilahi tanpa proteksi amal yang memadai. Lautan yang luas dan dalam melambangkan
alam barzakh dan akhirat yang penuh misteri, sedangkan perahu melambangkan amal
yang menjadi sarana keselamatan.
Hal utama adalah berbekal.
Dalam terminologi agama, bekal yang dimaksud bukanlah materi, melainkan
ketakwaan dan amal jariyah. Konsep ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an
Surah Al-Baqarah ayat 197: “Berbekallah kalian, sesungguhnya
sebaik-baik bekal adalah takwa.” Ayat ini memberikan penegasan bahwa di
dunia yang serba fana ini, manusia sering terjebak mengumpulkan bekal harta
yang akan ditinggalkan, padahal yang dibutuhkan di “lautan” akhirat adalah
ketulusan niat dan pengabdian kepada Allah Swt.
Syekh Nawawi dalam syarahnya
menjelaskan bahwa alam kubur adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Jika
di persinggahan pertama saja seseorang tidak memiliki sarana keselamatan, maka
perjalanan selanjutnya akan jauh lebih berat. Metafora mengarungi lautan tanpa
perahu mencerminkan kondisi keputusasaan dan ketidakberdayaan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya
Ulumuddin juga memberikan penekanan serupa pada Bab Dzikrul Maut (Mengingat
Kematian). Beliau menjelaskan bahwa keterpedayaan manusia terhadap dunia
(ghurur) seringkali membuat mereka menunda amal (tulul amal). Al-Ghazali menggambarkan
dunia sebagai jembatan (jisrun) yang seharusnya dilewati, bukan dijadikan
tempat tinggal tetap. Membangun istana di atas jembatan tanpa memikirkan
seberang jalan adalah bentuk kebodohan intelektual dan spiritual, (Al-Ghazali,
2011).
Kesadaran akan adanya “lautan”
yang harus diseberangi membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak.
Amal shaleh dalam konteks ini tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi
juga mencakup integritas moral, kejujuran dalam bekerja, dan dedikasi untuk
kemaslahatan umum. Semua tindakan positif tersebut diibaratkan akan menjadi
“kayu-kayu dinding perahu” yang akan menyelamatkan pelakunya.
Menariknya, Syekh Nawawi
menekankan bahwa “memasuki kubur” adalah sebuah kepastian yang tidak mengenal
negosiasi waktu. Kematian seringkali datang tanpa peringatan tertulis. Oleh
karena itu, persiapan amal harus dilakukan secara kontinyu, bukan menunggu usia
tua. Dalam tradisi thuros, konsep ini dikenal dengan istilah isti’dad lil maut
(bersiap menyambut kematian). Seseorang yang telah memiliki “perahu” amal yang
kokoh tidak akan merasa takut saat badai kematian datang menjemput, karena ia
tahu kapalnya mampu bertahan, (Al-Bantani, 2016).
Secara psikologis, kesadaran
akan bekal ini melahirkan sifat qana’ah (merasa cukup) terhadap dunia dan
ambisi terhadap akhirat. Seseorang tidak akan lagi terlalu sedih kehilangan
materi duniawi, selama ia tahu “perahu” ridho Allah-nya masih utuh. Hal ini
berfungsi sebagai penyeimbang mental di tengah arus materialisme modern yang
seringkali memaksa manusia untuk hanya mengumpulkan bekal bagi kehidupan dunia,
namun mengabaikan kebutuhan akhirat.
Syekh Nawawi Al-Bantani ingin
menegaskan bahwa kehidupan ini adalah bengkel pembuatan perahu. Waktu yang kita
miliki adalah bahan bakunya. Jika hanya menghabiskan waktu untuk bermain-main
di pinggir pantai tanpa membangun perahu, maka saat air pasang kematian datang,
kita akan tenggelam dalam penyesalan yang tidak bertepi. Astaghfirullah..
Selama takziyah mengiringi
do’a, dzikir dan tahlil almaghfurlahu banyak nasehat yang sampaikan para guru,
kiyai dengan pesan-pesan mauidhotul hasanah diantaranya; harus saling menjaga
keluarga, saling akur sama dulur, beristiqomah, dan menjadikan diri bermanfaat
bagi orang lain.
Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa….
Daftar Pustaka
* Al-Bantani, Muhammad Nawawi. (2010). Nashaihul
‘Ibad: Kumpulan Nasihat Pilihan Bagi Para Hamba. (Achmad Masruri, Penerjemah).
Bandung: Pustaka Setia.
* Al-Bantani, Muhammad Nawawi. (2016). Syarah
Nashaihul ‘Ibad. Jakarta: Darul Kutub Islamiyah.
* Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. (2011). Ihya
Ulumuddin: Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama. (Moh. Zuhri, Penerjemah). Semarang: CV
Asy-Syifa.
Tulis Komentar