081286968485

Nasehat Abuya: BerbekallahOleh : AHMAD NURUL IHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa

Allahu Robbirham murobbii ruuhinaa (Ya Robbanaa)
Ya Badrotim ya badrotimmin haza kulla kamaali

Maaza yu'a maaza yu'abbiru 'an 'ulaaka maqoalii

Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa

 

Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guru kami,

Ya Allah Tuhanku, rahmatilah pendidik jiwa kami (wahai Tuhanku)

Wahai bulan purnama yang indah lagi sempurna
Ketinggianmu tidak bisa terungkap dengan kata-kata
Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guru kami,

 

Boponter – Syair diatas merupakan do’a, rasa rindu dan kesedihan kami atas wafatnya orangtua, sekaligus guru kami tercinta Abuya KH. Abudin Somad bin KH Abdurrahman Fadhil pada Kamis, 2 April 2026 M / 13 Syawal 1447 H, beliau selaku Pembina dan Pengasuh Pondok Pesantren YPI Ar Rahmaniyyah Bojong Pondok Terong, Cipayung, Kota Depok. Juga selaku Ketua Penasehat DKM Masjid Jami’ Al-Ittihad dan pengisi kajian rutin Taklim Malam Senin di Masjid Jami’ Al Ittihad. Kepulangan beliau ke Rahmatullah merupakan kesedihan bagi segenap pengurus DKM Masjid dan seluruh jamaah, atas bimbingan beliau jamaah memahami hukum-hukum dan tata cara ibadah yang baik.

 

Kesedihan begitu dalam bagi pengurus DKM Masjid Jami’ Al Ittihad dan jamaah sangat berlapis, karena sebelumnya Abuya KH. Raden Zarkasih Amin bin KH. Muhammad Amin telah pulang ke Rahmatullah pada tahun 2025, beliau pengisi kajian rutin Taklim Malam Rabu Unit Nurul Bayan Masjid Jami’ Al Ittihad melanjutkan ayah dan kakek beliau sejak 40 tahun yang lalu.    

 
Merenungi dan selalu mengingat pembahasan yang pernah disampaikan oleh kedua guru diatas, dalam kajian kitab Nashaihul ‘Ibad, Bab I, karya Syekh Nawawi Al-Bantani menyajikan sebuah analogi filosofis tentang hakikat keberadaan manusia di dunia. Hal ini bukan sekadar membahas relasi sosial, melainkan mengajak pembaca untuk melakukan refleksi eksistensial mengenai tujuan akhir kehidupan. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan sarat peringatan (tanbih), nasihat ini menekankan bahwa dunia hanyalah tempat perlintasan sementara, dan kecerdasan sejati seorang hamba diukur dari sejauh mana ia mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang menuju keabadian, (Al-Bantani, 2016).

 

Dan “Barangsiapa memasuki kubur tanpa membawa bekal (amal shaleh), maka seolah-olah ia mengarungi lautan tanpa perahu.” (Al-Bantani, 2010). Analogi “lautan” dan “perahu” ini menggambarkan betapa mengerikannya kondisi seseorang yang menghadapi pengadilan Ilahi tanpa proteksi amal yang memadai. Lautan yang luas dan dalam melambangkan alam barzakh dan akhirat yang penuh misteri, sedangkan perahu melambangkan amal yang menjadi sarana keselamatan.

 

Hal utama adalah berbekal. Dalam terminologi agama, bekal yang dimaksud bukanlah materi, melainkan ketakwaan dan amal jariyah. Konsep ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 197: “Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” Ayat ini memberikan penegasan bahwa di dunia yang serba fana ini, manusia sering terjebak mengumpulkan bekal harta yang akan ditinggalkan, padahal yang dibutuhkan di “lautan” akhirat adalah ketulusan niat dan pengabdian kepada Allah Swt.

 

Syekh Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa alam kubur adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Jika di persinggahan pertama saja seseorang tidak memiliki sarana keselamatan, maka perjalanan selanjutnya akan jauh lebih berat. Metafora mengarungi lautan tanpa perahu mencerminkan kondisi keputusasaan dan ketidakberdayaan.

 

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin juga memberikan penekanan serupa pada Bab Dzikrul Maut (Mengingat Kematian). Beliau menjelaskan bahwa keterpedayaan manusia terhadap dunia (ghurur) seringkali membuat mereka menunda amal (tulul amal). Al-Ghazali menggambarkan dunia sebagai jembatan (jisrun) yang seharusnya dilewati, bukan dijadikan tempat tinggal tetap. Membangun istana di atas jembatan tanpa memikirkan seberang jalan adalah bentuk kebodohan intelektual dan spiritual, (Al-Ghazali, 2011).

 

Kesadaran akan adanya “lautan” yang harus diseberangi membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak. Amal shaleh dalam konteks ini tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga mencakup integritas moral, kejujuran dalam bekerja, dan dedikasi untuk kemaslahatan umum. Semua tindakan positif tersebut diibaratkan akan menjadi “kayu-kayu dinding perahu” yang akan menyelamatkan pelakunya.

 

Menariknya, Syekh Nawawi menekankan bahwa “memasuki kubur” adalah sebuah kepastian yang tidak mengenal negosiasi waktu. Kematian seringkali datang tanpa peringatan tertulis. Oleh karena itu, persiapan amal harus dilakukan secara kontinyu, bukan menunggu usia tua. Dalam tradisi thuros, konsep ini dikenal dengan istilah isti’dad lil maut (bersiap menyambut kematian). Seseorang yang telah memiliki “perahu” amal yang kokoh tidak akan merasa takut saat badai kematian datang menjemput, karena ia tahu kapalnya mampu bertahan, (Al-Bantani, 2016).

 

Secara psikologis, kesadaran akan bekal ini melahirkan sifat qana’ah (merasa cukup) terhadap dunia dan ambisi terhadap akhirat. Seseorang tidak akan lagi terlalu sedih kehilangan materi duniawi, selama ia tahu “perahu” ridho Allah-nya masih utuh. Hal ini berfungsi sebagai penyeimbang mental di tengah arus materialisme modern yang seringkali memaksa manusia untuk hanya mengumpulkan bekal bagi kehidupan dunia, namun mengabaikan kebutuhan akhirat.

 

Syekh Nawawi Al-Bantani ingin menegaskan bahwa kehidupan ini adalah bengkel pembuatan perahu. Waktu yang kita miliki adalah bahan bakunya. Jika hanya menghabiskan waktu untuk bermain-main di pinggir pantai tanpa membangun perahu, maka saat air pasang kematian datang, kita akan tenggelam dalam penyesalan yang tidak bertepi. Astaghfirullah..

 

Selama takziyah mengiringi do’a, dzikir dan tahlil almaghfurlahu banyak nasehat yang sampaikan para guru, kiyai dengan pesan-pesan mauidhotul hasanah diantaranya; harus saling menjaga keluarga, saling akur sama dulur, beristiqomah, dan menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain.

 

Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa….

 

 

Daftar Pustaka

 * Al-Bantani, Muhammad Nawawi. (2010). Nashaihul ‘Ibad: Kumpulan Nasihat Pilihan Bagi Para Hamba. (Achmad Masruri, Penerjemah). Bandung: Pustaka Setia.

 * Al-Bantani, Muhammad Nawawi. (2016). Syarah Nashaihul ‘Ibad. Jakarta: Darul Kutub Islamiyah.

 * Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. (2011). Ihya Ulumuddin: Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama. (Moh. Zuhri, Penerjemah). Semarang: CV Asy-Syifa.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds