Keterangan Gambar : peristiwa agustus
MW News โ Hari ini Kamis 27 Agustus 2026 / 14 Rab. Awal 1448 H rakyat Indonesia bergerak dan berkumpul di Gedung DPR RI Senayan menuntut keadilan hukum untuk para koruptor dan antek asing yang berlindung di tembok penguasa (pemerintah). Aksi ini melibatkan berbagai elemen, mulai dari aliansi warga, mahasiswa dan masyarakat sipil, hingga pengemudi ojek online atau ojol.
Setiap kelompok atau elemen membawa tuntutan yang berbeda. Namun, sejumlah isu seperti pengesahan RUU Perampasan Aset, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), kebijakan ekonomi, hingga penanganan bencana menjadi bagian dari aspirasi yang dibawa massa.
Adapun daftar kelompok atau elemen Masyarakat yang akan menggelar demo di DPR RI hari ini beserta tuntutannya.
1. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB)
Kelompok
Aliansi ini membawa dua tuntutan utama dalam aksi demonstrasi.
Diantaranya:
-
Mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset.
- Mendorong penerapan hukuman mati bagi koruptor.
2. Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM)
Kelompok
Aliansi ini membawa daftar tuntutan yang lebih luas. Sejumlah isu politik,
ekonomi, ketenagakerjaan, pendidikan, hingga kebencanaan menjadi sorotan dalam
aksi mereka.
Diantaranya :
-
Mengadili Prabowo-Gibran.
-
Menghentikan KDMP dan MBG.
-
Menghentikan kebijakan pajak yang dinilai menindas rakyat.
-
Mewujudkan pendidikan dan kesehatan gratis, ilmiah, serta berkualitas.
-
Menurunkan harga kebutuhan pokok dan menaikkan upah buruh.
-
Menetapkan bencana di Sumatra dan NTT sebagai bencana nasional.
-
Menjamin dan memenuhi hak-hak pekerja rumah tangga.
-
Melaksanakan demiliterisasi dan menghentikan pembangunan batalyon.
-
Menghentikan kriminalisasi aktivis serta membebaskan seluruh tahanan politik.
- Menyita seluruh aset koruptor.
3. Kelompok Pengemudi Ojek Online
Kelompok
pengemudi ojol juga menjadi bagian dari aksi demonstrasi. Mereka membawa
sejumlah tuntutan, di antaranya:
-
Mendesak agar RUU Perampasan Aset segera disahkan.
- Meminta program Makan Bergizi Gratis atau MBG segera dievaluasi.
Aksi yang melibatkan sejumlah elemen ini membuat Gedung DPR RI kembali menjadi titik penyampaian aspirasi masyarakat. Beragam tuntutan yang dibawa menunjukkan masih banyak isu kebijakan yang menjadi perhatian kelompok masyarakat, mulai dari pemberantasan korupsi hingga persoalan ekonomi dan kesejahteraan.
Tanda Menolak Tunduk dan Menantang Tembok Kekuasaan.
Tanggal 27 Agustus bukan sekadar angka biasa dalam lembaran Kalender di Indonesia. Hampir 4 (empat) abad silam pada 27 Agustus 1628 tanah Batavia menjadi letupan dan letusan perlawanan rakyat terbesar ketika ribuan orang biasa menantang arogansi Kongsi dagang penguasa yang tamak.
Sejarah mencatat, ketika ketidak adilan dan monopoli mulai mencekik kehidupan rakyat, maka diam bukanlah pilihan. Mari menengok Kembali Sejarah apa yang terjadi pada subuh berdarah itu, dan memantik api keberanian yang tak pernah padam hingga hari ini.
Tepat di tanggal 27 Agustus 1628 dinihari, gelombang serangan pertama dilancarkan ke Benteng Hollandia. Pasukan rakyat bergerak serentak dalam kegelapan, merayap dan mendobrak sistem pertahanan kota yang dianggap kuat tidak sanggup didobrak dan mustahil tembus.
Ditengah hujan senapan dan dentuman Meriam yang memekakan telinga, prajurit berjuang untuk bertempur tanpa gentar. Senjata tradisional beradu dengan benteng batu tembok yang tebal. Pertempuran itu membuktikan satu hal : rakyat memiliki keberanian untuk menantang pusat kekuasaan yang angkuh.
Bergerak serentak rakyat jelata.
Panglima Tumenggung Bahurekso memimpin puluhan kapal kayu dan ribuan prajurit tempur pilihan dari Pesisir Kendal menuju Batavia. Mereka bukan pasukan bayaran orang bergaji tinggi, melainkan para pemuda dan petani yang terpanggil demi martabat bangsa.
Lautan Teluk Jakarta dipenuhi layer perahu tradisional. Mereka tahu bahwa benteng yang mereka tuju dijaga oleh Meriam baja dan tantara bayaran dari berbagai penjuru, namun ketakutan itu kalah oleh harga diri yang diinjak-injak.
Gejolak api semangat yang tak pernah padam. Darah dan keringat yang tertumpah pada 27 Agusutus 1628 tidak akan pernah hilang dengan sia-sia. Ia menjelma menjadi benih kesadaran bahwa kekuasaan yang dholim dan merampas hak rakyat harus selalu diingatkan dan dilawan.
Semangat itu terus berkobar dan diwariskan turun temurun, melintasi zaman, membakar dada generasi berikutnya dari masa ke masa. Setiap kali ketidak adilan terasa pekat, ingatan tentang keberanian melawan tembok kekuasaan akan selalu bangkit Kembali.
Walau kalah senjata, tetapi menang martabat. Perintiwa 27 Agustus memang berakhir dengan mundurnya pasukan akibat perbedaan teknologi dan benteng yang kokoh. Ratusan darah pejuang yang gugur membasahi tanah Batavia demi menolak tunduk pada tirani.
Namun, Sejarah tidak pernaih menilai perlawanan para pejuang hanya dari hasil diatas kertas. Hari itu membuktikan bahwa sekuat apapun benteng kekuasaaan dan secanggih apapun alat persenjataan tidak akan pernah mampu mematikan nyali dan semangat para pejuang penegak keadilan.
Ketika keserakahan mulai mencekik. Diawali dengan datang bertujuan sekadar berdagang, kemudian berubah menjadi tirani dengan memonopoli segalanya. Jalur laut rakyat ditutup, harga hasil bumi ditekan semurah mungkin, yang menolak diancam dengan senjata.
Bagi rakyat pesisir dan para petani pedalaman, laut dan tanah daratan merupakan nafas bagi kehidupan mereka dengan penuh kebebasan. Ketika hak hidup itu dirampas oleh sekelompok atau segelintir kepentingan elit asing dan berlindung dibalik tembok penguasa, maka kemarahan rakyat secara sosial akan meledak dengan tekad bersama seperti bendungan air bah yang dapat menjebol benteng tembok penguasa.
Bersuara adalah hak, dan bertahan adalah kewajiban. Tanggal 27 Agustus mengajarkan kita bahwa perubahan tidak akan pernah lahir dengan diam dan penuh kepasrahan. Menjaga kedaulatan dan menolak penindasan adalah Amanah Sejarah yang harus dipikul bersama oleh setiap generasi.
Ketika
hati Nurani memanggil untuk membela keadilan, apakah kita harus diam atau
bersuara dan berjuang demi tegaknya keadilan ?
Tulis Komentar