Keterangan Gambar : istighfar
Pocin – Kala itu sedang asik buka laptop di lantai 3 ITC Depok, sembari menunggu teman yang ingin bertemu sekalian silaturrahmi karena sudah lama tak jumpa. Disudut meja tembok kantin ada seorang bapak yang terus mulutnya mengucapkan dzikir kalimat istighfar, astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.
Ketika saya mendekat, dan bertanya, “apa keutamaannya istighfar pak Yai”?. Beliau menoleh kemudian menjawab; “Dalam kehidupan seorang Muslim, istighfar (permohonan ampun kepada Allah Swt) memiliki kedudukan yang sangat agung. Istighfar bukan hanya sekadar ucapan ‘Astaghfirullah’ yang dilantunkan dengan lisan, melainkan sebuah bentuk kesadaran dan pengakuan akan kelemahan manusia yang tak luput dari dosa dan kesalahan. Membaca istighfar adalah wujud kerendahan hati seorang hamba di hadapan Tuhannya dan menjadi sarana untuk meraih rahmat dan maghfirah (ampunan) dari Allah Swt”. Jelasnya.
Kata “istighfar” berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab ghafara yang berarti menutupi, menghapus, atau memaafkan. Dalam istilah syar’i, istighfar berarti memohon ampun kepada Allah Swt atas dosa-dosa yang telah dilakukan baik dengan lisan, hati, mata, telinga dan lainnya serta tindakan nyata untuk tidak mengulanginya.
Ternyata istighfar bukan sekadar ibadah, sesungguhnya otak, jantung, bahkan sel tubuh ikut serta merespons.
Pernahkah kita sadari? Disaat hidup sedang merasakan galau, Al-Qur'an justru menyuruh memperbanyak istighfar! Bukan menyuruh cari hiburan, bukan menyuruh lari dari masalah. Tetapi menyuruh memohonlah ampunan kepada Tuhan.
Al-Qur’an telah mengabadikan kisah-kisah persoalan yang pernah dialami orang-orang jaman dulu manakala mereka melakukan kesalahan, mereka langsung memohon ampunan kepada Tuhannya. Lihatlah istighfarnya Nabi Adam As, Nabi Nuh As, Nabi Musa As, Nabi Yunus As dan nabi-nabi lainnya yang terjadi ribuan tahun lalu. Sebelum alat-alat canggih hadir, belum ada laboratorium. Belum ada Magnetic Resonance Imaging (MRI) alat pemeriksaan medis menggunakan teknologi magnet serta gelombang radio untuk mengidentifikasi kondisi tubuh. Belum ada alat Computed Tomography (CT) teknik pencitraan yang mengandalkan sinar-X dan komputer untuk menghasilkan potongan gambar otak. Belum ada ilmu neurosains.
Kalimat "Astaghfirullah" kelihatannya biasa aja. Padahal di balik kalimat itu terjadi proses yang luar biasa. Bukan sihir, bukan sugesti. Tetapi respons biologis, psikologis, dan spiritual yang saling berkaitan.
Dua ilmuwan menghabiskan puluhan tahun untuk mempelajari apa yang terjadi pada manusia ketika berdo’a dan melakukan pengulangan kalimat yang bermakna. Hasilnya membuat mereka kaget.
Penelitian Pertama Dr. Andrew Newberg.
Ketika do’a dapat mengubah aktivitas otak. Nama Dr. Andrew B. Newberg mungkin tidak begitu terkenal di luar dunia akademik. Padahal beliau adalah salah satu pelopor ‘neuroteologi’, yaitu bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara aktivitas otak dan pengalaman spiritual.
Selama bertahun-tahun ia menggunakan teknologi SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography) untuk memotret aktivitas otak orang yang sedang berdo’a, bermeditasi, dan melakukan praktik keagamaan.
Yang ia temukan cukup menarik. Ketika seseorang berdo’a dengan penuh kekhusyu’an, beberapa bagian otak berubah aktivitasnya.
1. Prefrontal Cortex menjadi lebih aktif.
Bagian ini sering disebut sebagai CEO-nya otak. Di sinilah manusia mengendalikan emosi, fokus, pengambilan keputusan, dan pengendalian diri. Semakin aktif area ini, seseorang cenderung lebih mampu berpikir jernih sebelum bereaksi.
Artinya, orang yang rutin berdo’a atau berdzikir dengan penuh penghayatan berpotensi lebih mudah mengendalikan emosinya dibanding langsung bereaksi karena marah atau panik.
2. Aktivitas pada bagian otak yang membantu membedakan "aku"
dengan dunia luar berubah.
Dalam penelitian Newberg, perubahan pada area parietal dikaitkan dengan pengalaman merasa lebih menyatu, lebih tenang, atau lebih dekat kepada Tuhan. Karena itu, banyak peserta menggambarkan munculnya rasa damai dan berserah diri.
Ini bukan berarti otak "menciptakan Tuhan", tetapi menunjukkan bahwa pengalaman spiritual memiliki jejak yang dapat diamati pada aktivitas otak.
Penelitian Kedua Dr. Herbert Benson, Harvard Medical School.
Kalau Newberg melihat otaknya, sedangkan Dr. Herbert Benson melihat seluruh tubuhnya. Selama puluhan tahun beliau meneliti ribuan pasien yang melakukan do’a atau pengulangan kata-kata yang dilakukan dengan tenang dan fokus. Beliau menemukan fenomena yang disebut Relaxation Response. Ini adalah kebalikan dari mode stres (fight or flight).
Saat stres, jantung berdetak lebih cepat. Kortisol meningkat, tekanan darah naik, otot menegang. Napas menjadi pendek, tubuh seolah bersiap menghadapi bahaya. Tetapi, saat seseorang masuk ke kondisi relaksasi melalui do’a atau pengulangan kalimat yang bermakna. Maka terjadilah perubahan fisiologis seperti: denyut jantung cenderung melambat, napas menjadi lebih teratur, tekanan darah pada sebagian orang dapat menurun, konsumsi oksigen tubuh berkurang, tubuh menjadi lebih rileks.
Benson menekankan bahwa respons ini dapat membantu mengurangi dampak stres kronis. Namun, hasilnya bisa berbeda pada setiap orang dan bukan pengganti pengobatan bila seseorang memiliki penyakit.
Lantas, apa hubungannya dengan Istigfar?
Disinilah yang menarik. Istigfar bukan sekadar mengulang kata. Kalimat ‘Astaghfirullah’ membawa makna yang sangat dalam.
Ketika kita mengakui kesalahan, berhenti menyalahkan dunia, menerima bahwa manusia memang bisa keliru, kemudian memohon ampun kepada Allah Swt dan berniat tulus untuk memperbaiki diri.
“Kalau
nongkrong sama yang berilmu, dapat ilmu ya pak Yai”, candaku. (Ia tersenyum) “Sayapun
samma”, timpalnya. “Syukron jazakallahu khairan katsiran ilmunya pak Yai”,
jawabku. “sama-sama”, jawabnya. “Sama-sama apa nih”? timpalku, “Sama-sama dapat
ilmu” sambil tersenyum. *
Tulis Komentar