Cirebon. Disaat perjalanan roadshow dan silaturrahmi ke daerah-daerah yang dikunjungi kebanyakan adalah pimpinan pondok pesantren (kiyai), majelis taklim (ustadz/ah) dan koperasi (pengurus). Sangat beruntung manakala yang dikunjungi pimpinan pondok pesantren (abah kiyai), karena selain mendapat suguhan jasmani, sekaligus mendapat siraman rohani.
Dalam bincang santai sambil ngopi (ngobrol pintar), sering menyelipkan pertanyaan yang akan dijadikan ilmu sebagai oleh-oleh saat pulang. Disatu waktu, pernah bertanya seputar do’a bisa menolak Qadha, bukankah qadha itu telah tuntas (ditetapkan) ?
Dengan gaya gaulnya, abah Yai menjawab, do’a itu ibarat anak panah asmara yang ditembakkan kepada seseorang dan tidak pernah melukainya, justru ia akan melindungi dan mengiringi setiap derap langkahnya bersama. Kemudian mengambil kata-kata puisi dari Imam Syafi’i, “engkau tidak tahu yang bisa dilakukan do’a, do’a itu ibarat anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset. Akan tetapi anak panah tersebut ada waktunya yang dibutuhkan untuk mengenai sasaran, dan setiap waktu pasti ada akhirnya”.
Abah Yai menjelaskan, qadha itu telah tuntas dan ditetapkan di lauhil mahfuzh, lalu turun menjadi kejadian, tetapi dengan do’a itu Allah Swt buat laksana anak panah yang dilepas dari busur terbaik, lalu dilepas oleh insan yang kuat dari hamba yang tulus dan pasrah, do’a itu akan sampai kepada Rabbnya. Do’a yang dipanjatkan dari seorang hamba yang berserah diri dengan penuh penghambaan, saat itulah do’a akan bertemu dengan qadha, keduanya terjalin sampai hari kiamat, do’a tidak akan membiarkan qadha yang buruk terjadi pada hambanya.
Qadha itu tetap turun tetapi tidak akan mengenai hamba yang berserah diri dengan terus berdo’a kepada Rabbnya, karenanya jangan pernah meremehkan do’a, panjatkanlah do’a dengan penuh pengharapan. Saat semua orang tertidur lalu mengadulah kepada Allah Swt apapun yang diinginkan, berdo’alah dengan yakin untuk menolak segala musibah dan cobaan, mengadulah kepada-Nya atas segala hal yang Allah Swt lebih mengetahuinya. Tidaklah atasmu kecuali bertahan dan bersabar terus tengadahkan tangan dengan sungguh-sungguh mengharap kepada yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah Swt.
Ingatlah bahwa, Ia tidak mungkin menolak bisikan do’a hambanya, sementara Ia yang membuat semua dapat bicara, pergilah menghadap kepada-Nya. Bangunlah pada waktu-waktu yang Ia janjikan mustajabah, tetapi kita ini suka sekali tidur di waktu-waktu mustajab itu, asik dengan mainkan hape atau televisi, larut dengan saluran satelit, tenggelam dalam aplikasi yang sia-sia, padahal dipertigaan akhir malam itu Allah Swt memanggil hamba-Nya.
Sudah berapa banyak waktu yang dihabiskan sia-sia diwaktu kita ditunggu untuk berdo’a meminta, Allah Swt selalu menunggu untuk panjatkan do’a, “siapa yang berdo’a akan Aku kabulkan”, (QS Ghafir [40]: 60). Dimana kita saat itu ? disaat Allah Swt katakan ‘siapa yang meminta akan Aku berikan, dimana kita ? saat Allah Swt katakan siapa yang meminta ampun, akan Aku ampuni, dimana kita selama ini, sehingga kita sia-siakan waktu itu hingga waktu fajar pun hilang.
Do’a adalah sarana terbaik untuk sucikan diri, saat kita menangis dan hati tersentuh, ketahuilah itulah momen do’a akan terkabul, saat kulit bergetar merasakan rasa takut, air mata mengalir dan kita sedang menyepi menyendiri, ketahuilah saat itu momen dijawabnya do’a-do’a, angkat tangan dan serahkan diri kepada Allah Swt, ketahuilah dengan keyakinan penuh bahwa momen seperti itu tidak akan terjadi selain atas pilihan-Nya terhadap diri sendiri.
Imam Ahmad telah mengeluarkan riwayat di dalam Musnad-nya dari Abu Said, bahwa Rasulullah Saw, bersabda: “Tidaklah seorang Muslim berdo’a dengan do’a yang di dalamnya tidak ada dosa dan pemutusan hubungan kekerabatan kecuali Allah memberi dia satu dari tiga hal: disegerakan untuk dia (pengabulan) do’anya; disimpan untuk dia di akhirat; atau dialihkan dia dari keburukan semisalnya.” Mereka berkata, “Kalau begitu kami memperbanyak do’a.” Nabi Saw, menjawab, “Allah lebih banyak lagi membalas”, (HR. Ahmad).
Dalam
penutupnya bah Yai menjelaskan juga, bahwa Al-Hakim telah mengeluarkan riwayat
dalam Al-Mustadrak, dari Abu Hurairah Ra berkata, Rasulullah Saw
bersabda:
”Tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah dari do’a”. (HR al-Hakim).
Barokallahu fii kum.
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى الله مِنْ
الدُّعَاء
Tulis Komentar