Persia - Di suatu jalanan Kota Madinah yang sangat teduh, seorang lelaki berjalan dengan hati yang sedang dipenuhi harapan akan cinta dan kasih sayang.
Setelah menyusuri perjalanan hidup yang panjang dalam mencari kebenaran, sejak meninggalkan kampung halamannya, keluarganya, bahkan seluruh kenyamanan duniawi demi menemukan syariat agama Tuhan yang sebenarnya yaitu Islam. Kesempatan kali ini hatinya diuji oleh sesuatu yang lebih sunyi, yaitu cinta.
Ada sosok seorang wanita Anshar yang diam-diam membuat hatinya bergetar. Wanita sholehah yang wajah elok rupawan dan berakhlak baik.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, lelaki itu membayangkan sebuah rumah tangga sederhana yang dipenuhi ketenangan, tempat ia pulang setelah berjuang di jalan Allah Swt. Dengan penuh harap, ia memutuskan untuk melamar Wanita sholehah itu.
Namun, ia bukanlah penduduk asli Madinah. Ia belum begitu memahami adat dan kebiasaan kaum Anshar dalam urusan khitbah. Maka ia mendatangi sahabat yang sangat dipercayainya, yaitu Abu Darda Ra. Sembari ia mengatakan; "Aku ingin melamar seorang wanita," ucapnya pelan.
Tentu saja, Wajah Abu Darda Ra sahabatnya itu langsung berbinar. Ia memeluk sahabatnya erat. "Semoga Allah Swt memudahkan urusanmu, wahai saudaraku." Do’anya.
Hari-hari berikutnya diisi dengan persiapan. lelaki itu menyiapkan mahar. Menyiapkan nafkah. Menyiapkan mimpi-mimpi kecil yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah Swt.
Kemudian tibalah saatnya, mereka berdua berjalan menuju rumah keluarga wanita sholehah yang dicintai lelaki itu. Sepanjang perjalanan, hatinya berdebar. Mungkin sebentar lagi hidupnya akan berubah dengan penuh kebahagiaan. Sebentar lagi ia akan memiliki seorang pendamping setia yang menunggunya ketika pulang. Sebentar lagi kesendiriannya akan berakhir. Setibanya di rumah keluarga wanita itu menyambut mereka dengan baik.
Abu Darda Ra memperkenalkan lelaki itu dengan penuh penghormatan. Ia menceritakan keutamaan sahabatnya, tentang keimanannya, tentang pengorbanannya, tentang kedekatannya dengan Rasulullah Saw. Lelaki itu hanya menunduk, menunggu jawaban, penuh harap dan terus berdo’a. Lantas jawaban itu datang dari balik hijab, terdengar suara sang ibu Wanita itu. "Kami perlu berterus terang ?."
Jantung lelaki itu semakin berdebar, walau beberapa detik saja terasa seperti bertahun-tahun. Kemudian kalimat itu terdengar. "Puteri kami menerima, jika Abu Darda Ra juga memiliki keinginan yang sama."
Mendengar jawaban itu, sungguh dunia terasa sunyi, begitu sunyi, seakan seluruh suara di Madinah menghilang hanya dalam satu detik. Lelaki itu merasa tidak ditolak karena kurang baik. Tidak ditolak karena kurang sholeh. Namun hati wanita itu ternyata memilih orang yang berjalan bersamanya. Memilih sahabat yang selama ini ia percaya, yaitu Abu Darda Ra.
Sungguh betapa beratnya lelaki itu menerima kenyataan, bahwa seseorang yang telah memenuhi do’a-do’a ternyata ditakdirkan menjadi milik orang lain. Betapa pedihnya menyaksikan mimpi yang telah di bangun perlahan, namun runtuh tepat di depan mata.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, lelaki itu harus tersenyum ketika hati sedang hancur. Namun ia bukan lelaki biasa. Ia tahu bahwa cinta mungkin bisa dipaksa untuk datang, tetapi hati manusia tetap berada dalam genggaman Allah Swt.
Maka lelaki itu menelan seluruh kecewanya sendirian. Menyembunyikan seluruh luka di balik keimanan. Lalu dengan suara yang bergetar oleh ketegaran, ia mengucapkan, "Allahu Akbar."
Tidak ada amarah, tidak ada iri, dan tidak ada kebencian. Yang ada hanyalah seorang hamba yang sedang belajar menerima keputusan Rabb-nya. Lelaki itu kemudian melakukan sesuatu yang mungkin tidak sanggup dilakukan oleh kebanyakan manusia pada umumnya.
Lelaki itu justru memberikan seluruh persiapan pernikahannya kepada sahabatnya Abu Darda Ra. Harta yang telah ia kumpulkan, mahar yang telah ia siapkan, dan bekal yang telah ia simpan diberikan semuanya.
Bahkan, ketika hari pernikahan itu tiba, lelaki itu hadir sebagai saksi. Menyaksikan wanita yang pernah ia impikan menikah dengan lelaki lain, sahabat sendiri yang diminta tolong untuk melamar. Menyaksikan harapan yang pernah ia bangun menjadi kebahagiaan sahabatnya. Dan ia tetap mendo’akan mereka, semoga mendapatkan kebahagiaan dalam mengarungi rumah tangga.
Sungguh, di situlah letak keikhlasan hati yang sesungguhnya. Bukan sekadar kehilangan sesuatu yang diinginkan, tetapi kehilangan sesuatu yang sangat dicintai dan dambaan sepanjang zaman. Lantas lelaki itu berkata, "Ya Allah, aku ridho atas pilihan-Mu."
Lelaki itu adalah Salman Al Farisi Ra dari Persia sahabat Rasulullah Saw yang setia. Yang merekomendasikan membuat parit saat Perang Khandaq.
Masihkah ada lelaki saat ini yang sekuat hati, selapang
dada Salman Al Farisi ?
Tulis Komentar