081286968485

Ridho Atas Segala Ketetapan Allah Swt.Oleh : AHMAD NURUL IKHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul] Keterangan Gambar : kajian nurul bayan

Ponter, Depok – Selasa Malam Rabu, 07-07-2026, Pengajian Rutin Majelis Ta’lim Nurul Bayan Unit Masjid Jami’ Al Ittihad kembali dilaksanakan dengan Kajian Kitab Nashoihud Diniyyah karya Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad bersama KH. DR. Marullah Matali, LC, MA, yang membahas seputar Ridho dan Ikhlas atas segala ketetapan Allah Swt. 

Makna dasar ridho yang secara harfiah berarti rela, puas, atau menerima dengan senang hati. Dalam konteks Islam, ridho mencerminkan sikap menerima segala ketentuan dan takdir Allah Swt dengan penuh kerelaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Ini mencakup penerimaan aktif terhadap segala hal yang terjadi dalam kehidupan, disertai dengan keyakinan bahwa semua itu adalah yang terbaik dari Allah Swt. 

Mengenai ridho atas segala ketetapan Allah Swt merupakan suatu sifat yang sangat mulia. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt; “Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah ayat: 8).

Bahkan dalam hadist Ibnu ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib Ra, bahwa dia telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Robbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya”. (HR. Muslim (no. 34). 

Orang yang ridho kepada keputusan Allah Swt adalah yang menerima ketentuan-Nya, walaupun ketentuan Allah Swt itu bertentangan dengan keinginannya, seperti halnya ia mengalami musibah pada dirinya atau hartanya atau ditimpa bencana, tekanan hidup, kemiskinan, dan lain sebagainya.

Meskipun demikian ia harus menerimanya dengan lapang dada, tidak marah dan susah terhadap ketentuan Allah Swt. Karena Allah Swt berhak melakukan apa saja yang Dia kehendaki dalam kerajaan-Nya dan tidak boleh ada yang menentang atau membangkang terhadap kekuasaan-Nya.

Di saat seorang hamba mengalami hal ini, hendaknya dia mewaspadai pertanyaan pada dirinya; Seandainya, mengapa dan bagaimana bisa?.” Hendaknya ia menyadari bahwa Allah Swt Maha Adil dan Bijaksana dalam seluruh perbuatan dan ketentuan-Nya, tidaklah Dia menentukan sesuatu bagi hamba-Nya yang mukmin meskipun si hamba tidak menyukainya, dan pasti di dalamnya terdapat kebaikan dan kesudahan yang baik.

Dalam ajaran Islam, ridho memiliki makna yang sangat penting. Konsep ini berkaitan erat dengan keimanan dan ketakwaan seseorang. Mencari ridho Allah adalah tujuan utama bagi umat Muslim, karena ridho Allah Swt mencerminkan persetujuan dan kerelaan-Nya terhadap hamba-Nya. Dalam Al-Qur'an, ridho Allah Swt disebutkan dalam beberapa ayat, menunjukkan betapa pentingnya sikap ini dalam kehidupan seorang Muslim.

Karena itu, sebaiknya ia berbaik sangka kepada Allah Swt, dengan menerima ketentuan-Nya, kembali kepada-Nya dengan penuh kerendahan diri dan penghambaan kepada-Nya. Serta bersimpuh di hadapan-Nya dengan hati yang tertunduk dan penuh permohonan, memperbanyak pujian kepada-Nya baik saat ia suka maupun duka, sengsara maupun sejahtera, segala puji hanyalah milik Allah Swt Tuhan alam semesta.

Adapun mengenai keikhlasan, harus didasari dengan niat baik dan tulus karena Allah Swt termasuk cara penyelamat yang paling besar dan paling penting. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt: “Diantaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kalian ada orang yang menghendaki akhirat.” (QS. Ali Imran ayat: 152).

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman: “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (OS. Al-Israa' ayat: 19).

Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini karena niat adalah amalan hati, sedangkan hati Adalah anggota tubuh yang paling mulia dengan demikian sudah pasti amaan hati lebih utama daripada amalan anggota tubuh lainnya, juga karena niat saja sudah mendatangkan pahala meski tanpa diterapkan melalui anggota tubuh, sedangkan amalan anggota tubuh apapun.

Disebutkan dalam sebuah hadits: “Barang siapa berniat melakukan kebaikan tetapi tidak jadi melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan penuh. Jika ia berniat dan benar-benar melakukannya, maka Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan lebih.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu berniatlah yang baik dan Ikhlaslah karena Allah Swt semata. Tidak melakukan suatu perbuatan ketaatan kecuali dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Menginginkan keridhaan-Nya dan menginginkan pahala ukhrawi yang telah Allah Swt janjikan sebagai balasan dari karunia-Nya atas perbuatan taat itu.

Diceritakan bahwa; suatu kali Bani Israil ditimpa musim paceklik hingga mereka mengalami kelaparan dimana-mana, lalu ada seorang lelaki melihat banyak orang kelaparan, ketika ia melewati gundukan pasir dan ia bergumam dalam hatinya: “Andai saja pasir-pasir ini makanan dan ia adalah milikku pasti akan aku bagikan kepada orang-orang itu.”

Kemudian Allah Swt menurunkan wahyu kepada Nabi mereka: “Katakanlah kepada si fulan (lelaki itu): “Bahwa Allah Swt telah menerima sedekahmu dan Allah memberi balasan yang baik atas niat baikmu.”

Diceritakan bahwa; para malaikat apabila naik ke langit membawa buku laporan setiap hamba kepada Allah Swt, maka Allah Swt berkata kepada malaikat; “Tuliskan pahala untuknya ini dan itu.” Kemudian malaikat mengatakan, “sesungguhnya ia tidak mengerjakannya.” Lalu Allah Swt menjawab: “Sesungguhnya ia telah meniatkannya.”

Allah Swt berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah ayat: 5).

Arti keikhlasan Adalah tujuan seseorang dalam seluruh ibadahnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan ingin memperoleh keridhaan-Nya tanpa tercampuri tujuan yang lain seperti riya' atau menginginkan pujian.

Al-Imam Sahal bin Abdullah At-Tusturi Ra berkata: “Para ulama ahli tasawuf meneliti arti keikhlasan, mereka tidak menemukan jawaban selain ini, yaitu: Seluruh gerak-gerik seseorang baik saat menyendiri ataupun dihadapan orang lain hendaknya semata-mata karena Allah Swt tanpa tercampuri oleh apapun baik itu hawa nafsu, keinginan ataupun pengaruh duniawi.”

Wallahu’alam bishshowab.

Kontributor : Sekretaris DMI Boponter, Cipayung, Depok



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds