Boponter – Pagi hari nan sejuk ba’da sholat subuh dihiasi dengan kirlapan pantulan air embun dari rumput-rumput dan dedaunan yang tersinari mentari pagi. Dihamparan depan rumah bah kiyai seperti biasa ngobrol pintar seputar nasihat (ngopi sehat), sembari sedikit tholabul ‘ilmi. Tentu saja ditemani kopi panas gula aren obat rasa kantuk, teh pahit obat netralitas, goreng pisang uli dan tanduk.
Dalam
obrolan itu, bah kiyai menyampaikan bahasan seputar keutamaan ibadah haji
karena sesuai dengan musim haji tahun ini, sebagaimana yang terkandung kitab ”Tanbiihul
Ghaafiliin”, Pengingat manusia yang lengah. Bahwa Al Faqih meriwayatkan dengan
sanadnya dari Ibnu Abbas Ra, “Ketika di Mina, Jamaah Yaman bertanya kepada Rasulullah
Saw, ”Jelaskanlah kepada kami keutamaan ibadah haji !”, Rasulullah Saw menjawab:
“Baiklah, setiap langkah dari rumah orang yang berniat menunaikan ibadah haji,
dosa-dosa tubuhnya rontok seperti rontoknya daun kering dari pohonnya, demikian
pula umrah”.
Lalu setelah di Madinah ia mengucap salam dan berjabat tangan denganku, maka dijabat oleh malaikat. Dan ketika sampai di Dzul Hulaifah mandi sunah ihram, maka semua dosanya disucikan, dan ketika berpakaian (niat) ihram, maka Allah Swt memperbaharui kebaikannya, dan ketika membaca: “LABBAIKALLAAHUMMA LABBAIK, disambut dengan: LABBAIKA WASA’DAKA ASMAU KALAAMAKA WA ANZHURU ILAIKA”, artinya: “Aku mendengar bacaanmu dan memperhatikan kamu”.
Dan ketika di Makkah melakukan thawaf dan sa’i, maka dituangkan kebaikan baginya, dan ketika wukuf di Arafah dan berdo’a bersama, maka Allah Swt berfirman: “Wahai para malaikat dan segenap masyarakat langit, lihatlah para hamba-Ku datang dari segenap penjuru jauh, dalam keadaan terurai dan berdebu, harta dan tenaga mereka korbankan demi Kemenangan dan Kemurahan-Ku, Aku memaafkan mereka dari dosa-dosanya, seperti bayi baru lahir dari (ibunya, demikian pula ketika melempar jumrah dan tahallul (mencukur rambur), serta thawaf ifadlah (ziarah), maka diserukan dari bawah ‘Arasy; Kembalilah kalian, segala dosa telah diampuni bagi kalian, dan perbaharuilah amal pebuatan kalian”.
Al Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Sayyidina Ali Ra, ia berkata; Ketika aku bersama Rasulullah Saw melakukan thawaf, bertanya: “Ya Rasulullah, jelaskan tentang keutamaan Baitullah padaku !” Rasulullah Saw menjawab: “Rumah ini sengaja dibangun, untuk menebus dosa-dosa umatku”. Kemudian keutamaan Hajar Aswad? Beliau menjawab: “Asalnya permata surga, bersinar seperti matahari ketika diawal turunnya, tetapi kemudian berubah hitam akibat sentuhan tangan musyrikin”.
Al Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Abbas Mirdas. Di hari Arafah Rasulullah Saw banyak berdo’a ditujukan demi agar memperoleh ampunan dan rahmat, kemudian Allah Swt menjawab: “Aku sudah menerima do’a tersebut kecuali penganiayaan yang terjadi di antara mereka”. Beliau mendesak: “Ya Allah, Engkau Kuasa dan mampu mengganti penganiayaan (orang yang dianiaya) dengan yang lebih baik dari pada menuntut balas kepada si penganiayanya”. Permohonan ini tidak segera dijawab, baru esoknya hari Muzdalifah do’a diulangi lagi, kemudian dijawab: “Kami ampunkan mereka semua, lalu beliau tersenyum”. Ketika ditanya sahabat: “Ya Rasulullah kenapa tersenyum?” Jawabnya: “Karena Iblis sewaktu tahu bahwa do’aku diterima demi umatku, maka ia meletakkan tanah di atas kepalanya dan merintih: ”Celaka aku dan binasa”.
Dalam hadis riwayat Abu Hurairah Ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; “Orang yang melakukan haji ke Baitullah, dan tidak mengeluarkan kata-kata keji, tidak fasik (mencaci-maki atau berbuat melanggar) maka dosa-dosanya dihapuskan seperti bayi yang baru lahir dari perut ibunya”. (HR. Bukhori dan Muslim).
Sesungguhnya
Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Tulis Komentar