Tanah Baru. Allahumma bariklana fii rajaba wa sya’bana wa ballighna Ramadhan. Do’a itulah yang diajarkan Nabi Muhammad Saw untuk selalu dibaca sejak memasuki bulan rajab, sya’ban hingga Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam yang beriman di seluruh dunia. Allah Swt memberikan Rahmat, berkah dan ampunan pada bulan istimewa ini. Menjadikan Ramadhan sebagai madrasah meraih ketakwaan merupakan langkah bijak untuk meningkatkan spiritual selama bulan suci. Orang yang memanfaatkan Ramadhan sebagai madrasah pendidikan diri lebih disiplin beribadah, menjaga pembicaraan, pandangan dan bertindak, serta fokus terhadap nilai-nilai kebaikan.
Ramadhan adalah bulan penuh berkah berfungsi sebagai madrasah meraih ketakwaan bagi umat Islam. Sebulan penuh diajarkan untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, tidak hanya sebatas makan dan minum saja, namun juga dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia. Dengan berpuasa, kita diajarkan tentang kesabaran dan pengendalian diri. Diiringi shalat sunnah tarawih, kita diajarkan disiplin. Dengan sedekah dan zakat fitrah, kita diajarkan untuk menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Dan dengan membaca Al-Qur’an, kita diajarkan untuk memperdalam kandungan firman Allah Swt. Kehadiran bulan Ramadhan menjadi sarana belajar atau madrasah untuk meraih dan memperkuat ketakwaan.
Dalam kegiatan shalat tarawih dibeberapa masjid ada yang program kajian kultum (kuliah tujuh menit) sebagai tambahan wawasan keilmuan bagi para jamaah. Seorang ustadz menyampaikan ulasan yang terdapat dalam Kitab Ihya 'Ulumuddin, karangan ulama besar Imam Al-Ghazali yang menjelaskan bahwa puasa memiliki 3 (tiga) tingkatan yang mencerminkan kualitas spiritual seseorang dalam menjalankan ibadah. Pemahaman ini penting agar kita tidak sekadar menjalankan puasa secara fisik, tetapi juga mampu menghayatinya lebih dalam.
Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali
Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali dalam Kitabnya Ihya 'Ulumuddin menjelaskan tiga tingkatan orang puasa di bulan Ramadhan.
Pertama, puasa orang awam (shaum al-‘umum), yaitu puasa yang hanya sebatas menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Inilah bentuk paling dasar dari puasa yang umumnya dilakukan kebanyakan orang.
Kedua, puasa orang khusus (shaum al-khusus), yang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.
Mata dijaga dari melihat hal-hal yang diharamkan, lisan dikendalikan dari ucapan sia-sia, serta hati dijauhkan dari sifat-sifat tercela seperti iri dan sombong. Puasa pada tingkatan ini lebih menekankan kesucian batin dan pengendalian diri secara menyeluruh.
Ketiga, puasa khusus dari yang khusus (shaum khusus al-khusus), merupakan puasa yang tidak hanya menahan fisik dan menjaga perilaku, tetapi juga menjaga hati dari segala keinginan duniawi.
Pada tingkatan ini, seseorang benar-benar mengarahkan seluruh pikiran dan jiwanya hanya kepada Allah Swt. Puasa ini tidak lagi sekadar ibadah lahiriah, tetapi menjadi sebuah perjalanan spiritual yang mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya.
Rahasia Puasa yang Berkualitas
Dalam kitab Asrorush Shoum, Imam Al-Ghazali juga mengungkapkan bahwa ada enam aspek penting yang harus dijaga agar puasa benar-benar menjadi ibadah yang diterima di sisi Allah Swt.
Refleksi dari pesan diatas mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi ia adalah latihan spiritual untuk mendidik jiwa.
Mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah, semoga kita mampu menjalankan puasa tidak sekadar menahan hawa nafsu, fisik, tetapi juga menyucikan hati dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.
Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183).
Tulis Komentar