081286968485

7 Perkara Tanpa Diikuti 7 PerkaraOleh : AHMAD NURUL IHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Banten – Ditengah kesibukan mengurus Pondok Pesantren sehingga seluruh waktu abah kiyai diwakafkan untuk membina para santri. Setiap selesai sholat isya berjamaah di masjid, abah kiyai selalu mengajak ngopi sehat (ngobrol pintar seputar nasihat) sembari menunggu santri kumpul di majelis. Suatu malam membahas seputar Kitab Tanbihul Ghafilin, Babul Ikhlas, Karya: Syaikh Abu Laits As-Samarqandi. Abah kiyai menjelaskan, kitab ini lumayan bagus jika dipahami dengan baik dan diamalkan dengan tulus, akan dapat membawa seseorang menuju kebersihan hati, kesantunan budi pekerti, serta kesadaran akan pentingnya hidup dalam kerangka ibadah. Ini mengingatkan kita bahwa hidup di dunia bukan sekadar mengejar kesenangan sementara, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat yang kekal. 

Salah satu tujuan disusunnya Kitab Tanbihul Ghafilin adalah mengajak kita merenung tentang makna hidup yang hakiki. Di tengah kesibukan duniawi, kita sering lupa bahwa tujuan utama hidup ini adalah untuk beribadah kepada Allah Swt dan mempersiapkan diri untuk menghadap-Nya. Kitab ini hadir sebagai pengingat akan pentingnya menjalani hidup dengan penuh kesadaran spiritual, selalu menjaga hubungan dengan Allah Swt, dan tidak terlena dengan godaan duniawi.

Dengan gaya bahasa yang sederhana namun syarat dengan ilmu, Syaikh Abu Laits As-Samarqandi berhasil menyusun kitab yang mampu menggugah kesadaran setiap pembacanya. Ia mengingatkan kita bahwa hidup ini sementara, dan sudah sepatutnya kita memanfaatkan waktu yang ada untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, serta menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Kitab Tanbihul Ghafilin akan selalu relevan sebagai panduan spiritual, terutama bagi mereka yang ingin menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sebagai hamba Allah Swt. Dibawah ini merupakan bahasannya.

Seorang bijak megatakan, barangsiapa yang mengerjakan 7 (tujuh) hal tanpa dibarengi 7 (tujuh) hal maka apa yang ia kerjakan itu tidak akan membawa manfaat, yaitu:

Pertama. Seseorang yang beramal dengan takut, namun ia tidak memelihara dirinya. Ia mengatakan; “Saya takut siksaan Allah Swt”, tetapi ia tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Maka ucapannya itu tidak membawa manfaat sama sekali bagi dirinya.

Kedua. Seseorang yang beramal dengan penuh harapan namun ia tidak berusaha. Ia mengatakan; “Saya mengharapkan pahala dari Allah Swt”, tetapi ia tidak berusaha mencapainya dengan amal-amal shaleh. Maka apa yang ia ucapkan itu tidak ada gunanya.

Ketiga. Niat tanpa realisasi. Di dalam hati ia niat untuk mengerjakan ibadah dan perbuatan yang baik, namun ia tidak merealisasikannya dengan tindakan. Maka apa yang ia niatkan itu tidak akan manfaat bagi dirinya.

Keempat. Berdo’a tanpa sungguh-sungguh. Ia berdo’a kepada Allah Swt agar diberi kekuatan untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, namun ia tidak bersungguh-sungguh untuk mengerjakannya. Maka do’anya itu tidak ada gunanya. Yang lebih penting hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam beramal niscaya Allah Swt akan menolongnya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 69. 

Kelima. Memohon ampunan tanpa penyesalan. Ia menucapkan; “Saya mohon ampun kepada Allah Swt”, namun ia tidak menyesali dosa-dosanya. Maka permohonannya itu sia-sia. 

Keenam. Dalam hal-hal yang kelihatan, ia kerjakan dengan baik, namun dalam hal-hal yang tidak diketahui orang, ia tidak mengerjakannya dengan baik. Tindakan semacam ini menunjukkan bahwa perbuatannya itu tidak membawa kebaikan kepada dirinya.

Ketujuh. Seseorang yang beramal dengan sungguh-sungguh tanpa ikhlas. Maksudnya adalah seseorang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ibadah namun amal ibadahnya tidak ikhlas karena Allah Swt. Maka amal-amal yang tidak ikhlas itu tidak akan bermanfaat apa-apa bagi dirinya, bahkan yang demikian itu merupakan penipuan bagi dirinya sendiri.

Itulah sedikit nasihat abah kiyai sembari minum kopi sehat. Semoga bermanfaat !

Kitab  : Tanbihul Ghofilin

Babul : Ikhlas

Hal     : 4

Karya : Syaikh Abu Laits As-Samarqandi.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds