Keterangan Gambar : flyer ikhlas
Potecide – Selasa Malam
Rabu (4/8/2026) Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami’ Al Ittihad -
Boponter, mengadakan Kajian Rutin Majlis Ta’lim Nurul Bayan Unit Masjid Jami’
Al Ittihad bersama KH. DR. Marullah Matali, LC, MA dengan bahasan Kitab
Nashoihud Diniyyah karya Abdullah bin Alwi al-Haddad tentang
Ikhlas.
Makna ikhlas, para ulama menjelaskan dengan redaksi yang berbeda-beda, meskipun sebenarnya memiliki maksud yang sama. Ada yang mengatakan bahwa ikhlas adalah meng-Esakan Al-Haqq (Allah) dalam niat dan tujuan ketika melakukan keta’atan. Ada yang mengatakan ikhlas adalah membersihkan perbuatan dari memperhatikan pandangan makhluk.
Ada yang mengatakan ikhlas adalah kesamaan amal perbuatan hamba secara lahir dan batin, sedangkan riya adalah perbuatan lahiriah yang lebih baik dari batinnya. Ada juga yang mengatakan ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dengan terus memperhatikan (pandangan) Al-Khaliq, dan barangsiapa yang memperbagus diri di hadapan manusia dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, maka dia akan jatuh dari pandangan Allah Swt.
Dalil-dalil dasarnya Ikhlas sangat banyak, terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadits), yang menjelaskan tentang wajib dan pentingnya keikhlasan seorang hamba kepada Allah Swt.
Di antaranya, firman Allah Swt; “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar)..” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Sedangkan dalam hadist, Rasulullah Saw bersabda; “Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang dalam amalan itu dia menyekutukan selain-Ku dengan-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim).
Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman; “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka, sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar: 2-3).
Di antara beberapa nukilan menjelaskan bahwa; Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, sedangkan melakukan amal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah Swt menyelamatkanmu dari keduanya. Ikhlas adalah rahasia antara Allah Swt dengan hamba, tidak diketahui oleh malaikat sehingga dia bisa menulisnya, tidak pula diketahui oleh setan sehingga dia bisa merusaknya, dan tidak pula diketahui oleh hawa nafsu sehingga bisa dibelokkan olehnya. Sebagian ulama berkata, Ikhlas adalah engkau tidak mencari saksi atas amalmu selain Allah Swt dan engkau tidak mencari pemberi balasan selain-Nya.
Dan Allah berfirman; “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.’ ” (QS. Az-Zumar: 11).
Sekadar contoh; Ketika kita sungguh tulus berbuat baik demi kepentingan bersama, namun ada saja pandangan orang seolah-olah ingin dipuji, mencari muka, kemudian disebarkan infonya kepada yang lain. Terbersit rasa dalam dada kadang malas untuk melanjutkan perbuatan baik lainnya. Hati-hati karena itu bersumber dari bisikan setan. Lakukan saja perbuatan baik dengan tulus karena Allah Swt, karena memang jika berharap pujian dari manusia justru kadang mendapat kekecewaan, itu manusiawi.
Mari, luruskan niat, awali dengan bismillah dan akhiri dengan alhamdulillah.
Semoga
lelah kita menjadi lillahi ta’ala. Aamiin. Barokallahu fii kum.
Tulis Komentar