081286968485

Perbanyak Muhasabah Agar Hidupmu Semakin Berkah.Oleh : AHMAD NURUL IKHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul] Keterangan Gambar : Muhasabah

Depok - Bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 atau bulan terakhir dalam kalender Hijriyah. Di bulan inilah momen umat Islam untuk berganti tahun baru, dan sebagai momen muhasabah atau bentuk introspeksi diri dan bersyukur atas segala nikmat yang Allah Swt berikan. Introspeksi diri adalah proses ketika seseorang merenungkan kembali emosi, perasaan, pikiran, dan pengalaman yang dimiliki. Proses ini membantu individu untuk melihat kembali hal-hal yang telah dilakukan di masa lalu dan merefleksikan kehidupan saat ini. Introspeksi memberikan kesempatan bagi otak untuk berhenti sejenak dari pemikiran yang kacau, galau dan mengevaluasi peristiwa yang pernah dialami, sehingga dapat menjadi pembelajaran untuk masa depan. 

Rasulullah Saw bersabda; “Orang yang pandai adalah (orang) yang menghisab (evaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematian…..” (HR. At. Tirmidzi). 

Sungguh banyak amalan-amalan yang bisa dilakukan selama bulan Dzulhijjah dengan pahala berlipat dan sangat dicintai oleh Allah Swt. 1. Memperbanyak puasa sunnah, 2. Memperbanyak dzikir dan takbir, 3. Memperbanyak membaca Al-Qur’an dan do’a, 4. Memperbanyak sedekah dan membantu sesama, 5. Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu, 6. Memperbanyak amal Sholeh dan menjauhi maksiat, 7. Melaksanakan ibadah qurban. 

Oleh karena itu, bersamaan dengan momen akhir tahun Hijriyah ini, mari kita introspeksi diri dan memperbanyak taubat kepada Allah Swt. Sebagaimana perintah Allah Swt dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 8: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanannya. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” 

Memahami ayat diatas, umat Islam diperintahkan bertaubat dengan sungguh-sungguh. Taubat dalam agama Islam adalah proses kembali kepada Allah Swt dengan penuh penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan, disertai dengan tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Taubat bukan hanya sekadar ucapan, melainkan juga melibatkan perubahan hati dan perbuatan. Dalam taubat, seorang hamba mengakui kesalahan dan meminta ampunan kepada Allah Swt, sambil berusaha untuk memperbaiki diri. 

Taubat yang akan diterima oleh Allah Swt adalah taubat nasuha (sungguh-sungguh) yang dilakukan dengan sepenuh hati, tulus, dan ikhlas, serta disertai dengan tekad kuat untuk tidak kembali kepada perbuatan dosa yang telah dilakukan. Selain bertaubat, umat Islam juga dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan penuh ketakwaan. Dengan kesehatan, kelapangan harta, dan kenikmatan lainnya, menjadi modal besar untuk terus menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya. 

Hal ini juga diperintahkan dalam surah Al-Hasyr ayat 18: ”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. 

Mungkin saja kita tidak pernah menyadari atas perbuatan yang dilakukan menyinggung, menyakiti perasaan orang lain, di keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja dan mungkin juga dengan mitra kerja. Di akhir tahun inilah menjadi waktu yang tepat untuk berupaya muhasabah diri. Termotivasi ibadah dengan rajin, menjadi ahli syukur, menjadi pribadi yang bijaksana, memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat. Semuanya niatkan karena Allah Swt. 

Sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah Saw dalam sebuah hadist: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan.”. (HR.Bukhari). 

Mari jadikan bulan Dzulhijjah sebagai momentum hijrah menuju pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih peduli terhadap sesama. Dan sebagai langkah awal untuk memperbaiki diri dan keta’atan atas perintah-perintah serta larangan-larangan Allah Swt dan Rasul-Nya di tahun berikutnya. Insya Allah. 

*Kontributor : Sekretaris DMI Boponter, Kota Depok

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds