081286968485

Halal Bihalal Majlis Taklim Nurul Bayan; Lapangkan lah !Oleh : AHMAD NURUL IKHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Pondok Labu – Setelah rehat sejenak selama bulan suci Ramadhan dan hari raya idul fitri, Pengurus Pengajian Majlis Ta’lim Nurul Bayan Pusat mengadakan Halal Bihalal bersama jamaah dan Pengurus Majlis Ta’lim Unit Masjid dibawah binaan almaghfurlahu Abuya KH. Raden Zarkasih Amin bin KH. Muhammad Amin pada Sabtu, 11 April 2026 M / 22 Syawal 1447 H di Pondok Labu, Jakarta Selatan, dihadiri oleh para Kiyai, Guru, Asatidz dan sekitar 100 jamaah yang merupakan perwakilan dari pengurus majlis ta’lim unit Masjid serta jamaah dari Jakarta dan Kota Depok.

Halal Bihalal dan silaturrahmi ini merupakan dalam rangka musyawarah pengaturan jadwal pengajian sekaligus Pembukaan Majlis Ta’lim Nurul Bayan yang akan dilanjutkan oleh DR. KH. Marullah Matali, LC, M.Ag (mantan Sekda DKI Jakarta). Acara yang dipandu oleh ustadz HM. Rusli Widya Permana, SE selaku pembawa acara, Dzikir tahlil hadiah ahli kubur dipimpin oleh KH. Hanafi Efendi, dan sambutan dari Pengurus Majlis Ta’lm Nurul Bayan Pusat oleh KH. Syahrudin, SH, dilanjutkan Tausyiah sebagai perkenalan dan pembukaan oleh DR. KH. Marullah Matali, LC, M.Ag, dan tutup do’a oleh KH. Bahrudin Toyyib.

Dalam sambutannya, Ketua Majlis Ta’lim Nurul Bayan Pusat mengatakan, “banyak terima kasih kepada semuanya para kiyai, guru, asatidz dan jamaah yang telah melangkahkan kakinya menghadiri undangan Halal Bihalal Majlis Ta’lim Nurul Bayan, semoga Allah Swt menjadikan setiap langkahnya diampuni segala kesalahan dan diangkat derajatnya, karena barangsiapa yang melangkahkan kaki menuju majlis ilmu maka Allah Swt angkat derajatnya dan ditempatkan di surga yang penuh kenikmatan, aamiin, insya Allah.

Dalam pembukaan Tausyiah yang disampaikan oleh DR. KH. Marullah Matali, LC, M.Ag mewasiatkan untuk memperbanyak syukur, perbanyak sholawat, dan tholabul ilmi’. Dilanjutkan pembahasan sebait ayat dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11, yang artinya: “Wahai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

KH.Marullah mengisahkan bahwa Rasulullah Saw biasa memberikan tempat khusus kepada para sahabat ahli badar. “Di suatu hari, ketika majlis sedang berlangsung, datang beberapa sahabat ahli badar. Mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw dan beliau menjawabnya. Mereka mengucapkan salam kepada orang-orang di majlis itu dan mereka menjawabnya pula. Namun, tidak ada yang beranjak dari tempat duduknya sehingga para ahli badar itu berdiri. Maka Rasulullah Saw memerintahkan kepada para sahabat-sahabat lain, yang tidak ikut perang badar, untuk mengambil tempat lain agar para ahli badar bisa duduk di dekat beliau”, kisahnya.

Orang-orang munafik memanfaatkan kesempatan itu dengan menuduh Rasulullah Saw tidak adil. “Katanya Muhammad berlaku adil, ternyata tidak.” Mereka bermaksud memecah belah para sahabat. Ketika tuduhan itu sampai di telinga Rasulullah Saw, beliau menjelaskan bahwa siapa yang memberi kelapangan untuk saudaranya, ia akan mendapatkan rahmat Allah. Maka, para sahabat menyambut seruan Rasulullah Saw itu dan Allah Swt pun menurunkan Surat Al Mujadalah ayat 11.

Keutamaan Dalam Majlis Ilmu, yaitu:

1.Adab Menghadiri Majlis Ilmu.

Dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11, terdapat kalimat tafassahuu (تفسحوا) dan ifsahuu (إفسحوا) berasal dari kata fasaha (فسح) yang artinya lapang. Sedangkan kata unsyuzu (أنشزوا) berasal dari kata nusyuuz (نشوز) yang artinya tempat yang tinggi. Yaitu beralih ke tempat yang tinggi. Perintah itu berarti, berdirilah untuk pindah ke tempat lain guna memberikan kesempatan kepada orang lain agar duduk di situ. Orang yang memberi kelapangan kepada orang lain, ia akan diberi kelapangan oleh Allah Swt. Orang yang memberikan tempat duduk kepada orang lain, ia juga mendapat kebaikan dari Allah Swt.

Ayat ini memberikan tuntunan adab atau etika bermajlis. Yakni hendaklah setiap orang berlapang-lapang dalam majlis. Tidak mengambil tempat duduk kecuali seperlunya dan mempersilakan orang lain agar bisa duduk di majlis jika masih memungkinkan. Bahkan, Imam Al-Qurthubi menjelaskan, boleh bagi seseorang mengutus pembantunya untuk mengambilkan tempat duduk baginya di masjid. Dengan catatan, pembantunya itu berdiri untuk pindah ke tempat lain ketika yang mengutusnya datang dan duduk.

Namun secara umum, dilarang menyuruh seseorang untuk pindah dari tempat duduknya untuk ia tempati. “Janganlah seseorang menyuruh berdiri orang lain dari majlisnya lalu ia duduk menggantikannya.” (HR. Ahmad).

2. Allah Swt Meninggikan Derajat Orang Berilmu

Ibnu Katsir menjelaskan, janganlah memiliki anggapan bahwa apabila seseorang dari kalian memberikan kelapangan untuk tempat duduk saudaranya yang baru tiba atau ia disuruh bangkit untuk saudaranya itu merendahkannya. Tidak, bahkan itu merupakan suatu derajat ketinggian baginya di sisi Allah Swt.

Orang yang mau memberikan kelapangan kepada saudaranya dan bersegera saat disuruh Rasulullah Saw bangkit, mereka adalah orang-orang berilmu yang tahu adab majlis. Maka Allah Swt meninggikan derajat mereka. Firman Allah Swt ini berlaku umum, siapa pun yang beriman dan berilmu, Allah Swt akan meninggikan derajatnya. Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Sayyidina Umar Ibn Khattab Ra pernah bertemu Nafi’ bin Abdul Haris di Asfan. Sebelumnya, Umar Ra menunjuk Nafi’ menjadi amilnya di Makkah. Maka Umar Ra bertanya kepada Nafi’ “Siapakah yang menggantikanmu untuk memerintah di Makkah?”

“Aku mengangkat Ibnu Abza sebagai penggantiku,” jawab Nafi’.

“Engkau mengangkat seorang bekas budak untuk menggantikanmu mengurus Makkah?”

“Wahai amirul mukminin, sesungguhnya dia seorang ahli qira’at dan hafal Al-Qur’an, alim mengenai ilmu faraid.”

Maka Umar Ra pun menyetujuinya, seraya membacakan hadits Nabi Saw: “Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu kaum berkat Kitab (Al-Qur’an) ini dan merendahkan kaum lainnya karenanya.” (HR. Muslim).

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Qur’an menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa keimananlah yang mendorong mereka berlapang dada dan menaati perintah. Ilmulah yang membina jiwa lalu dia bermurah hati dan taat. “Iman dan ilmu itu mengantarkan seseorang kepada derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. Derajat ini merupakan imbalan atas tempat yang diberikannya dengan suka hati dan atas kepatuhan kepada Rasulullah Saw”.

Demikian sedikit pemanasan kajian pembukaan Ta’lim Nurul Bayan seputar adab menghadiri majlis (termasuk majlis ilmu dan majlis dzikir) untuk berlapang-lapang dan memberikan kelapangan bagi orang lain agar bisa duduk di majlis itu. Orang yang memberikan kelapangan kepada saudaranya di majlis, Allah Swt akan memberikan kelapangan untuknya. Allah Swt akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Surat Al-Mujadalah ayat 11 ini memberikan motivasi bagi orang yang beriman untuk menuntut ilmu dan menjadi orang yang berilmu.

Semoga Allah Swt melimpahkan Taufiq dan hidayah-Nya sehingga kita terus sama-sama menuntut ilmu untuk bekal hidup di dunia dan akhirat. Insya Allah.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds