Keterangan Gambar : animasi kunci surga
Banten – Cerita Maulana Hasanuddin berangkat dari Cirebon seorang diri tanpa pengawalan atas perintah Sunan Gunung Jati. Di Tegal Papak beliau memohon jadi burung jalak putih dan mengalahkan ayam baja sihir Prabu Pucuk Umun. Tanpa pertumpahan darah, 786 prajurit Pakuan Pajajaran tunduk dan masuk Islam.
Maulana Hasanuddin, lahir tahun 1478 dan wafat tahun 1570, merupakan Sultan Banten pertama, adalah seorang waliyullah. Putra ke-3 Sunan Gunung Jati Cirebon ini pertamakali datang ke Banten atas perintah ayahnya untuk menyebarkan agama Islam di bagian barat pulau Jawa.
Dalam naskah Sejarah Sultan Maulana Hasanuddin yang ditulis oleh KH. Abdul Latif Cibeber (1342 H) dijelaskan, Maulana Hasanuddin berangkat dari Cirebon seorang diri tanpa pengawalan. Pertama kali beliau singgah di Gunung Munara Bogor selama 14 hari. Dari sini, beliau diarahkan melakukan perjalanan ke Wilayah Barat lagi menuju Pulosari Pandeglang.
Di Daerah Pulosari hingga Gunung Karang terdapat kerajaan yang dipimpin Prabu Ajardumas, yang lebih terkenal dengan sebutan Pucuk Umun. Sang raja dan rakyatnya merupakan penyembah batu. Maulana Hasanuddin diarahkan ke daerah itu untuk mendakwahkan agama Islam.
Akan tetapi beliau tidak langsung masuk ke Pulosari. Beliau terlebih dulu singgah di Banten Girang di Daerah Sungai Dalung Serang, yang merupakan pintu gerbang memasuki wilayah kerajaan-kerajaan koloni Pakuan Pajajaran.
Kedatangan Maulana Hasanuddin di Banten Girang disambut hangat oleh kakak beradik yang menampuk jabatan di situ. Yakni Ki Ajarjong dan Ki Ajarjo. Keduanya bahkan langsung masuk Islam tanpa kendala apapun, lalu mereka dijuluki oleh Maulana Hasanuddin dengan sebutan: Mas Jong (berikut anak-anaknya yang laki-laki dipanggil Ki Mas dan yang perempuan dipanggil Nyi Mas) dan Agus Jo (berikut keturunannya yang laki-laki tua dipanggil Ki Agus, muda dipanggil Entol, perempuan dipanggil Nyi Ayu).
Ki Mas Jong dan Ki Agus Jo merupakan sahabat sekaligus murid setia Maulana Hasanuddin. Mereka bertiga lalu mendatangi Prabu Pucuk Umun di Pulosari untuk memeluk Islam. Tetapi ajakan itu ditolak. Prabu Pucuk Umun justru menantang dan ingin menjajal kesaktian Maulana Hasanuddin di hadapan para Ratu Pakuan dan Pajajaran, di Daerah Tegal Papak, Waringin Kurung.
Seperti kisah adu sakti Raja Fir’aun dengan Nabi Musa, Prabu Pucuk Umun mengeluarkan ayam jago besar berbungkus baja dan berjalu besi yang ganas, hasil sihirnya. "Jika kamu bisa mengalahkannya, aku ikut agamamu," kata Pucuk Umun menantang. Maulana Hasanuddin memohon kepada Allah Swt agar dijadikan seekor burung jalak putih yang mampu mengalahkan dan mempermalukan sihir Prabu Pucuk Umun. Benar adanya, burung jalak milik Maulana Hasanuddin berhasil mencabik-cabik ayam jago Pucuk Umun.
Namun demikian janji Pucuk Umun tidak ditepati. Dirinya beserta Priyayi Pakuan dan Pajajaran lainnya malah kabur. Pucuk Umun ke arah Ujung Kulon, Dewa Ratu ke arah Pulau Panaitan, Prabu Lunggarang ke arah Tanjung Tua, Prabu Linggawastu ke daerah Rajabasa, Prabu Munding ke puncak Gunung Karang.
Para Priyayi Pakuan dan Pajajaran tanpa perlawanan meninggalkan kekuasaannya di Daerah Banten. Hanya tersisa 786 orang prajurit Pakuan dan Pajajaran yang semuanya tunduk dan memeluk Islam tanpa pertumpahan darah. Mereka dilindungi Maulana Hasanuddin bersama Ki Mas Jong dan Ki Agus Jo untuk menempati perdusunan di wilayah Banten.
Sebagai pemimpin baru di Daerah Banten, Maulana Hasanuddin bermaksud mendirikan istana kesultanan. Hanya saja atas saran Gunung Jati, Maulana Hasanuddin diminta menunaikan haji terlebih dulu. Beliau pun berangkat haji, setelah berpamitan terlebih dulu kepada muridnya Ki Mas Jong dan Ki Agus Jo, dengan pesan agar menjaga Wilayah Banten.
Di Makkah, Maulana Hasanuddin selain menunaikan ibadah haji juga berbai’at tarikah Syattariyah, yang juga dianut oleh Sunan Gunung Jati. Hanya saja tidak ada kejelasan beliau berguru dengan siapa di Mekkah.
Di bawah pemerintahannya, Kesultanan Banten mengalami perkembangan pesat di berbagai bidang. Kesultanan Banten adalah kerajaan maritim yang mengandalkan perdagangan untuk menopang perekonomian kerajaan. Untuk memudahkan hubungan dagang dengan pesisir Sumatera melalui Selat Sunda, pusat pemerintahannya kemudian dipindahkan dari pedalaman Banten Girang ke pesisir.
Di kawasan teluk Banten, Maulana Hasanuddin membangun tiga institusi penting sebagai motor perubahan kerajaannya. Tiga institusi tersebut adalah Masjid (sebagai basis kegiatan sosial keagamaan), Kraton Surosowan (pusat pemerintahan), dan Pelabuhan (sentra ekonomi).
Di tangan Sultan Maulana Hasanuddin, Banten dikenal sebagai bandar besar yang menjadi persinggahan utama dan penghubung antara pedagang dari Arab, Parsi, India dan Tiongkok dengan negara-negara di Nusantara. Selain itu, Kesultanan Banten juga menguasai Lampung yang banyak menghasilkan rempah-rempah. Di era Sultan Maulana Hasanuddin pula, Banten dapat melepaskan diri dari Demak pada 1568 M. Sultan Maulana Hasanuddin wafat pada 1570 dan dimakamkan di Masjid Agung Banten.
Makam Sultan Hasanudin terletak di Kompleks Makam Keramat Kesultanan Banten, di kawasan Banten Lama, Kota Serang, Provinsi Banten. Lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Banten dan Benteng Speelwijk, menjadikannya bagian dari kawasan bersejarah yang kaya akan nilai arkeologis dan spiritual.
Klik aja. www.goodnewsfromindonesia.id+1.
Tulis Komentar