Keterangan Gambar : animasi kunci surga
Bonsa, The Pok -. Sungguh banyak kunci surga yang kita kenal, lafadz laa ilaha illallahu, menunaikan shalat, mencintai fakir miskin, bahkan ridho kepada Allah Swt sebagai Tuhannya, ridho Muhammad Saw sebagai Nabinya, dan beriman kepada-Nya. Dalam hal ini membahas seputar kesetiaan pada aturan Allah Swt.
Memahami kata setia, seringkali didengar dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hal keluarga, persahabatan, hubungan asmara, bahkan dalam konteks professional seperti di tempat kerja. Secara sederhana, setia bisa diartikan sebagai sikap teguh hati dan konsisten dalam menjalankan komitmen atau janji yang telah dibuat.
Ketika seseorang disebut setia, berarti dia berpegang kuat pada janjinya atau prinsip-prinsip yang diyakini, tidak mudah goncang meskipun ada banyak rintangan atau godaan. Sedangkan kesetiaan adalah konsep yang merangkum perasaan teguh atau ketaatan terhadap suatu hubungan, baik dalam persahabatan, pekerjaan, atau hubungan lainnya.
Secara keseluruhan, menjadi setia berarti memiliki dedikasi, tanggung jawab, dan integritas dalam segala hal yang dilakukan, itulah yang membuat kesetiaan menjadi suatu nilai sangat penting dan dihargai dalam banyak aspek kehidupan.
Dalam suatu kisah, bahwa puteri tercinta Rasulullah Saw, Fathimah Ra bertanya kepada ayahanda tercinta, “Siapakah perempuan yang akan masuk surga pertama kali”?. Rasulullah Saw menjawab, ”Seorang wanita yang bernama Muti’ah.”
Tentu saja Fathimah Ra terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang selama ini ia bayangkan. Mengapa orang lain, padahal dia adalah puteri Nabi. Timbullah keinginan untuk mengetahui siapakah Muti’ah itu. Apa yang telah dibuatnya sampai mendapat kehormatan begitu tinggi ?
Setelah meminta izin kepada suaminya, Ali bin
Abi Thalib Ra, Fathimah Ra berangkat mencari rumah Muti’ah. Puteranya yang
masih kecil, Hasan, menangis ingin ikut, maka digandengnya Hasan. Saat tiba di
depan rumah yang dituju, Fathimah Ra mengetuk pintu, sembari mengucapkan salam,
“Assalaamu’alaikum…!”
Kemudian, “Wa’alaikumsalaam, siapa di luar?” terdengar jawaban dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya Fathimah, puteri Rasulullah.” Jawabnya.
“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya
hari ini. Fathimah Ra sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban
dari dalam yang lebih gembira, dan makin mendekat ke pintu.
“Sendirian Fathimah?” tanya Muti’ah.
“Aku ditemani Hasan.” Jawab Fathimah.
“Aduh, maaf ya,” suara itu seperti
menyesal. “Saya belum mendapat izin untuk menemui tamu laki-laki.”
“Tapi Hasan masih kecil.” Jawab Fathimah.
“Meski kecil, Hasan laki-laki. Besok saja datang lagi, saya akan minta izin kepada suami saya.” Jawab Muti’ah.
Sambil menggeleng-nggelengkan kepala, Fathimah Ra
akhirnya pamit dan permisi.
Besoknya ia datang lagi. Kali ini Husain, adik Hasan, diajak juga. Bertiga dengan anak-anak yang masih kecil itu, Fathimah Ra mendatangi rumah Muti’ah.
Setelah memberi salam dan dijawab gembira, Muti’ah
bertanya dari dalam, “Jadi dengan Hasan? Suami saya sudah memberi izin.”
“Ya, dengan Hasan dan Husain.” Jawab Fathimah.
“Haaa ! Mengapa tidak bilang dari
kemarin? Yang dapat izin cuma Hasan, Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa
menerima juga.”
Jawab Muti’ah.
Lagi-lagi Fathimah Ra gagal bertemu.
Esok harinya barulah mereka disambut baik-baik oleh Muti’ah. Keadaan rumah itu sangat sederhana. Tidak ada satu pun perabot mewah, namun semuanya teratur rapi.
Ada tempat tidur yang terbuat dari kayu kasar namun tampak bersih. Alasnya putih, agaknya baru dicuci. Bau di dalam sangat segar. Membuat orang betah tinggal berlama-lama.
Fathimah Ra merasa kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu. Hasan dan Husain pun yang biasanya kurang begitu senang berada di rumah orang, kali ini tampak asyik bermain-main.
“Maaf, saya tidak bisa menemani Fathimah duduk, sebab saya sedang menyiapkan makan buat suami saya,“ kata Muti’ah sambil sibuk di dapur. Mendekati tengah hari, masakan itu sudah rampung. Muti’ah menatanya di atas nampan. Juga, menaruh cambuk.
Fathimah Ra bertanya, ”Suamimu kerja di
mana?”
“Di ladang.” Jawab Muti’ah.
“Penggembala?” Tanya Fathimah Ra.
“Bukan, bercocok tanam.” Jawab Muti’ah.
“Tapi mengapa kamu siapkan cambuk, untuk
apa?”
Tanya Fahimah penasaran.
“Oh, itu,” Muti’ah tersenyum. “Cambuk
itu saya sediakan untuk keperluan yang lain.”
Fathimah Ra terlihat penasaran.
Muti’ah menjelaskan, “Maksud saya begini. Kalau suami saya sedang makan, maka akan saya tanyakan apakah cocok atau tidak. Kalau dia bilang cocok, tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya agar punggung saya dicambuk sebab tidak bisa menyenangkan hati suami.”
“Atas kehendak suamimu kamu bawa cambuk
itu?”
tanya Fathimah Ra.
“Oooh, sama sekali tidak. Suami saya adalah orang yang lembut dan pengasih. Ini semua semata-mata kehendak saya agar jangan sampai saya menjadi isteri yang durhaka kepada suami.” Jawab Muti’ah.
Usai mendengar penjelasan ini, Fathimah Ra minta permisi. Dalam hati ia berkata, pantas ia akan masuk surga buat pertama kali. Baktinya kepada suami begitu besar dan tulus.
Bukan berarti Fathimah Ra termasuk tipikal wanita yang tidak setia terhadap suaminya. Kesetiaan dan ketaatan buah hati Rasulullah Saw ini kepada suami tidak diragukan lagi. Kehidupan rumah tangganya serba kekurangan, namun kesetiaannya yang didasari keimanan dan perjuangan syiar Islam tidak luntur walau sebesar debu. Darah kesetiaan nampaknya mengalir deras dari ibundanya, Khadijah Ra, Muslimah pertama yang mempelopori kecintaan dan kesetiaan kepada suaminya, Rasulullah Saw.
Baca kisahnya di : www.menarawisata.com/Gua Hira, Saksi Setia Sepanjang Masa. |
Janji Allah Swt itu pasti benar. Wujud kesetiaan yang telah ditunjukkan oleh Muti’ah, Fathimah Ra, dan juga Khadijah Ra bukan sekadar menghasilkan kekuatan yang mendorong kegigihan dan perjuangan suaminya, namun juga membawa keberkahan yang besar kepada rumah tangga mereka.
Anak-anak yang lahir dari wanita-wanita seperti ini adalah anak-anak yang shaleh dan shalehah yang mendorong para orang-tua menuju surga. Manakala di zaman sekarang ada anggapan bahwa kesetiaan merupakan lambang perbudakan pria kepada wanita, itu adalah pemahaman kaum liberal, kaum kuffar dan kaum munafiqun. Justru sebaliknya, itu merupakan cermin buah cinta, ketulusan, dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama dalam rangka mencari Ridho Ilahi.*
Kontributor : Sekretaris DMI Boponter, Depok.
Tulis Komentar