081286968485

Yaqin dan TawakalOleh : AHMAD NURUL IKHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Boponter – Alhamdulillah, Pengajian Majlis Ta’lim Nurul Bayan unit Masjid Jami’ Al Ittihad, Bojong Pondok Terong telah dibuka kembali pada Selasa Malam Rabu 21 April 2026 M setelah tawakufan sementara selama bulan suci ramadhan dan hari raya idul fitri 1447 H. Semula pemberi materi adalah Abuya KH. Raden Zarkasih Amin, namun karena beliau telah wafat (allahummaghfirlahu), maka insya Allah dilanjutkan oleh puteranya yaitu DR. KH. Marullah Matali, LC, M.Ag (mantan sekda DKI Jakarta). 

Dalam pembukaan ta’lim, KH. Marullah membedah Kitab Nashoihud Diniyyah Wal Washoya Al Imaniyyah karya Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad merupakan kitab tasawuf dan nasehat keimanan yang komprehensif. Dalam kajian kitab ini, membahas seputar rasa yaqin (keyakinan) dan tawakal merupakan dua pilar penting dalam membentuk mentalitas seorang mukmin. 

Berikut kajian ta’lim seputar rasa yaqin dan tawakal berdasarkan prinsip-prinsip tasawuf dalam kitab nashoihud diniyyah:

1. Yaqin (Keyakinan) sebagai Landasan Keimanan. Yaqin adalah iman yang mantap, kokoh, dan tidak menyisakan keraguan sedikit pun terhadap janji Allah Swt, kabar dari Rasulullah Saw, dan perkara yang ghoib. Rasa Yaqin memiliki tingkatan yang perlu dipupuk, mulai dari ‘ilmul yaqin (ilmu), ‘ainul yaqin (pandangan hati), hingga haqqul yaqin (pengalaman langsung).

Pentingnya Yaqin karena ini ruh dari keimanan. Tanpa rasa yakin, iman seseorang akan goyah saat menghadapi ujian atau cobaan. Yaqin membuat seseorang seakan melihat perkara ghoib secara langsung. 

2. Tawakal sebagai Buah dari Yaqin. Tawakal adalah menyerahkan sepenuhnya segala urusan kepada Allah Swt secara lahir dan batin, bersandar penuh kepada-Nya, serta yakin bahwa apa yang ditakdirkan Allah Swt adalah yang terbaik bagi dirinya. 

Lantas bagaimana hubungan yaqin dan tawakal? Tawakal tidak akan sempurna tanpa yaqin. Ketika seseorang memiliki rasa yaqin yang kuat akan kekuasaan dan kasih sayang Allah Swt, maka ia akan mudah bertawakal, dan hatinya tenang.

Kemudian tawakal dan usaha (Ikhtiar). Tawakal bukanlah bersikap pasif. Tawakal yang benar adalah melakukan usaha maksimal (ikhtiar) secara lahiriah, namun hati tetap berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt atas hasil yang akan didapatkannya. Dampak orang yang bertawakal akan mendapatkan ketenangan hati, terhindar dari rasa cemas, dan yakin Allah Swt akan memberikan kecukupan. 

Adapun nasehat penerapan yaqin dan tawakal adalah untuk meningkatkan keyakinan yang dapat dilakukan dengan mempelajari ilmu agama (sejarah para nabi, sahabat, dll), merenungkan kebesaran Allah Swt, dan belajar dari pengalaman menghadapi ujian dengan tenang.

Untuk menghindari salah cara memahami, tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Seseorang tidak boleh meninggalkan usaha dengan dalih tawakal, karena bertawakal tanpa berusaha adalah keliru. Hal yang penting lagi harus ditanamkan dalam hati adalah ridho atas takdir. Tawakal yang sejati akan membuahkan keridhoan hati terhadap hasil akhir, apapun bentuknya, karena yakin itu adalah yang terbaik menurut Allah Swt. 

Intinya dalam Kitab Nashoihud Diniyyah mengajarkan bahwa yaqin dan tawakal adalah kombinasi antara kekuatan mental (keyakinan hati) dan tindakan nyata (usaha), yang berujung pada penyerahan diri total kepada Allah Swt. Hasbunallahu wa ni’mal wakil. 

Sebagai tambahan, Syaikh Dr. Fadhl Ilahi mengatakan, “Tawakal bukanlah sama sekali meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap Muslim wajib berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan materi hidupnya. Hanya saja dia tidak boleh menyandarkan diri pada usaha, kerja kerasnya semata. Tetapi ia harus menyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah Swt, dan bahwa rezeki itu hanyalah dari Allah Swt semata.”

Imam Abul Qasim Al Qusyairi berkata dalam Mafatiihur rizq fi dhau’il kitab was sunnah, hal. 40; “Ketahuilah, sesungguhnya tawakal itu letaknya di dalam hati. Sementara usaha yang dilakukan tubuh tidaklah bertentangan dengan tawakal di dalam hati, setelah seorang hamba itu menyakini bahwa rezeki datangnya dari Allah Swt. Jika terdapat kesulitan, hal itu karena takdir-Nya, dan jika terdapat kemudahan, hal itu karena kemudahan dari-Nya”. 

Dalam Mirqatul Mafatih, 5/157, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya ia berkata: “Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bolehkah aku lepaskan untaku lalu aku bertawakal? Nabi Saw bersabda; “Ikatlah kemudian bertawakal-lah”. (HR. Ath Thabrani, Adz Dzahabi).

Wallahua’lam bishshowab, barokallahu fii kum, semoga bermanfaat !

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds