081286968485

Asal Mula Adzan dan IqomatOleh : AHMAD NURUL IKHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul] Keterangan Gambar : azan

Banten – Suatu malam saat menghadiri tahlil ta’ziah malam ketiga dan ketujuh atas wafatnya tetangga. Bah kiai menyampaikan tausyiah membahas asal-usul adzan dan iqomat. Sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Fathul Mu’in karya Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul Aziz Al-Malibari. Adzān dan iqāmah secara bahasa adalah pemberitahuan. Sedangkan secara syara‘ adalah lafazh-lafazh yang telah masyhur dalam adzān dan iqāmah. Dasar disyarī‘atkannya adzān dan iqāmah adalah ijma‘ ‘ulamā’ yang didahului oleh mimpi seorang sahabat ‘Abdullāh bin Zaid yang telah masyhur dalam musyāwarah membahas cara mengumpulkan manusia. 

Kisah mimpi tersebut seperti yang termaktub dalam kitab Sunan Abu Dāwūd Ra sebagai berikut:

“Dari ‘Abdullāh, dia berkata: Ketika Rasulullah Saw memerintahkan memukul lonceng untuk mengumpulkan manusia guna menunaikan ‘ibādah shalat, seorang lelaki yang membawa lonceng di tangannya berputar mengelilingiku sedang diriku tengah tertidur, kemudian saya bertanya: Wahai hamba Allah, apakah lonceng tersebut engkau jual? Dia menjawab: Akan engkau gunakan untuk apa?. Saya pun menjawab: Akan saya gunakan untuk memanggil manusia melaksanakan shalat. Dia berkata: Apakah engkau tidak ingin aku beritahu sebuah cara yang lebih baik dari itu? Lantas aku berkata padanya: Ya aku ingin tahu. Dia berkata: Ucapkanlah: (اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،) sampai akhir adzān. Kemudian lelaki tersebut pergi tidak jauh dariku dan berkata: Ketika akan didirikan shalat ucapkanlah: (اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،) sampai akhir iqāmah. 

Ketika waktu shubuḥ menjelang, aku mendatangi Nabi Muhammad Saw, lantas aku ceritakan mimpiku tersebut, Nabi Saw pun menjawab: Sungguh mimpi tersebut adalah mimpi yang benar. In syā’ Allāh, beranjaklah bersama Bilāl, lantas ajarkan padanya apa yang engkau impikan supaya ia melakukan adzān dengan mimpimu itu, sungguh Bilāl memiliki suara yang lebih keras dibanding engkau. Kemudian aku beranjak bersama Bilāl, lantas aku ajarkan adzān kepada Bilāl, hingga Bilāl melakukan adzān. Sahabat ‘Umar pun mendengar suara adzān tersebut sedang beliau berada di rumahnya, lantas beliau keluar sambil menyambar selendangnya dan berkata: Demi dzāt yang telah mengutus engkau ya Rasūlullāh, Sungguh aku telah bermimpi seperti yang diimpikan oleh ‘Abdullāh bin Zaid, Nabi Saw pun bersabda: “Segala puji bagi Allah”. Sebagian pendapat mengatakan bahwa lebih dari sepuluh sahabat yang bermimpi tentang adzān tersebut. 

Adzān juga disunnahkan selain untuk shalat seperti dikumandangkan di telinga orang yang sedang mengalami kesusahan, telinga orang yang kesurupan, telinga orang yang marah, telinga orang yang jelek budi pekertinya, yakni dari manusia atau hewan, saat tenggelam dan saat diganggu jin. Adzān dan iqāmah juga disunnahkan dikumandangkan di dua telinga anak yang dilahirkan dan di belakang orang yang bepergian. 

Adzān dan iqāmah hukumnya adalah sunnah kifāyah. Kesunnahannya dapat dihasilkan oleh sebagian orang saja. Kesunnahan ini sebab hadits yang diriwayatkan oleh Bukhārī-Muslim: “Ketika waktu shalat telah tiba, maka adzānlah salah satu di antara kalian”. Kesunnahan Adzān diperuntukkan bagi seorang lelaki walaupun anak kecil, orang yang shalat sendiri walaupun telah mendengar adzān dari selain dirinya menurut pendapat yang mu‘tamad, berbeda dengan keterangan dalam Syarḥu Muslim. Benar disunnahkan adzān walaupun telah mendengar adzān dari orang lain, namun jika ia mendengar adzān jamā‘ah dan ia menghendaki untuk shalat bersamanya, maka tidak disunnahkan untuk adzān menurut pendapat yang lain. 

Sunnah adzān diperuntukkan bagi shalat lima waktu walaupun shalat qadhā’, bukan selainnya seperti shalat sunnah, shalat janazah, dan shalat yang dinadzari. Jika seseorang ingin meringkas dengan mengerjakan salah satunya sebab waktu shalat hampir habis, maka mengumandangkan adzān lebih utama dibanding dengan iqāmah. 

Disunnahkan dua adzān untuk waktu Shubuḥ, satu adzān sebelum fajar dan satu lagi setelahnya. Jika ingin mengerjakan salah satunya, maka yang lebih baik adalah adzān setelah fajar. Disunnahkan pula dua adzān untuk hari Jum‘at, satu adzān setelah naiknya khathīb ke mimbar dan yang lainnya adzān yang dilakukan sebelum itu. Adzān terakhir adalah adzān yang diadakan oleh sahabat ‘Utsmān Ra saat melihat banyaknya manusia, maka kesunnahan adzān tersebut adalah ketika ada hajat seperti kehadiran para jamā‘ah bergantung pada adzān itu. Dan jika tidak, niscaya meringkas dengan mengikuti Nabi Saw lebih utama. 

Disunnahkan untuk melakukan adzān yang pertama saja dari shalat-shalat yang beruntut seperti shalat-shalat qadhā’, dua shalat jama‘, shalat qadhā’ dan shalat adā’ yang telah masuk waktunya sebelum melakukan adzān. Disunnahkan untuk melakukan iqāmah untuk setiap satu dari shalat-shalat tersebut, sebab mengikuti Nabi Saw. Disunnahkan melakukan iqāmah dengan pelan bagi seorang wanita dan khuntsā. Jikalau mereka para wanita, beradzān dengan pelan untuk para Wanita pula, maka hukumnya tidak dimakruhkan atau dengan keras, maka hukumnya haram. 

Shalat sunnah yang dianjurkan jamā‘ah seperti shalat ‘īd, tarāwīḥ, witir di bulan Ramadhān yang disendirikan pelaksanaannya dengan tarāwīḥ dan shalat gerhana, untuk memanggil dengan panggilan: (الصَّلَاة جَامِعَة ) -Hadirlah kalian semua untuk melaksanakan shalat. 

Lafazh: (الصَّلَاة) dibaca nashab sebagai susunan ighrā’ dan dengan dibaca rafa‘ sebagai mubtada’. Lafazh: (جَامِعَة) dengan dibaca nashab sebagai tarkīb ḥāl, dan dibaca rafa‘ sebagai khabar dari lafazh yang telah disebutkan. 

Mencukupi pula lafazh: (الصَّلَاةُ، الصَّلَاةُ) dan lafazh: (هَلُمُّوْا إِلَى الصَّلَاةِ). Kemarilah kalian semua untuk melaksanakan shalat. Dimakruhkan dengan lafazh: (حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ). Sebaiknya panggilan-panggilan tersebut hukumnya disunnahkan saat masuknya waktu shalat dan ketika akan shalat, supaya menjadi pengganti dari adzān dan iqāmah. Dikecualikan dari perkataanku: “Yang dianjurkan jamā‘ah” adalah yang tidak dianjurkan jamā‘ah dan shalat sunnah yang dilaksanakan sendiri. Dan dengan perkataanku, “Shalat sunnah” adalah shalat yang dinadzari dan shalat janāzah. 

Kemudian disunnahkan mengikuti atau menjawab suara adzan bagi jamaah yang mendengarkannya sesuai yang dialunkan muazin. Kecuali pada hayya ‘ala sholat dan hayya ‘alal falah, jamaah menjawab, laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim. 

Setelah adzan selesai, disunnahkan membaca do’a yang biasa dibaca. Kemudian baca do’a “Robbighfirli waliwadayya warhamhuma kama robbayani shogiro”. 

Wallahua’lam bishshowab.

 

Catatan Sumber :

1.    Adzan dan iqomah merupakan kekhususan umat Nabi Muḥammad Saw seperti yang telah disampaikan oleh Imām Suyūthī. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 1 hal. 265. Dār-ul-Fikr.

2.    Dan sesuai dengan wahyu yang diturunkan pada Nabi Saw, tidak hanya mimpi saja, I‘ānat-uth-Thālibīn juz 1 hal. 266. Dār-ul-Fikr.

3.    Setelah wafatnya Nabi Saw, sahabat Bilal tidak melakukan adzan lagi, selain satu kali untuk sahabat ‘Umar. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 1 hal. 266. Dār-ul-Fikr.

4.    Sebab kesusahan orang tersebut akan hilang setelah mendengar adzan. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 1 hal. 266. Dār-ul-Fikr.

5.    Agar apa yang didengar pertama kali adalah dzikir. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 1 hal. 266. Dār-ul-Fikr.

6.    Yang tidak menghukumi sunnah melakukan adzān jika telah mendengar adzān untuk jamā‘ah. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 1 hal. 268. Dār-ul-Fikr.

7.    Sebab bersambungnya shalat selain shalat yang pertama dianggap satu bagian, hingga hanya disunnahkan satu adzān saja. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 1 hal. 270. Dār-ul-Fikr.

8.    Bagi dirinya sendiri atau untuk jamā‘ah wanita tidak untuk lelaki dan khuntsā’. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 1 hal. 270. Dār-ul-Fikr.

9.    Keharaman tersebut bila di situ terdapat lelaki lain yang mendengar menurut Syaraḥ Raudh, Tuḥfah dan Mughni, sedangkan menurut Bujairamī hukumnya haram secara mutlak.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds