081286968485

Baitullah di Hati, Tempat Cahaya Allah Swt Bersemayam.Oleh : AHMAD NURUL IKHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Banten – Malam yang begitu terang benderang disinari cahaya rembulan. Abah Kiyai mengajak ngobrol pintar seputar nasihat (ngopi sehat) sembari menunggu santri kumpul di majlis. Tentu saja setiap obrolan membahas kitab yang akan disampaikan saat kajian ta’lim. Dalam kajian Qolbu Mukmin Baitullah artinya hati orang mukmin adalah rumah Allah Swt. Dalam hadits; “Qalbu orang yang beriman itu adalah rumah Allah”. “Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali “Hati” hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang”. (HR Abu Dawud ). 

Makna hadits, menekankan bahwa hati orang beriman adalah tempat yang paling suci dan paling cocok bagi Allah Swt untuk menyinari. Betapa pentingnya setiap manusia punya hati yang lembut, dan penuh kasih sayang. Karena, hati menjadi penentu dan “raja” dari apa yang akan dipikirkan, dikatakan dan dilakukan. Dari hati yang baitullah akan selalu memancarkan cinta-Nya. 

Dalam bahasan lanjutan, bahwa Allah Swt berfirman: "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, 'Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, orang yang itikaf, orang yang rukuk, dan orang yang sujud". (QS. Al-Baqarah [2]:125). 

Ayat ini, dalam pandangan para ahli fikih, menegaskan fungsi Ka’bah sebagai pusat ibadah, simbol kesatuan umat, dan kiblat shalat. Namun dalam pandangan para ahli sufi, ayat ini jauh melampaui sekadar tata aturan ritual. Ia berbicara tentang dimensi batin, tentang rumah yang sesungguhnya; hati manusia. Sebab hati adalah Baitullah, rumah Allah Swt yang hakiki. 

Hati sebagai Ka’bah Batin.

Ka’bah di Makkah adalah tanda. Ia menjadi poros lahiriah yang mengikat jutaan tubuh dalam satu arah sujud. Namun bagi para pencari Tuhan, ada Ka’bah yang lebih halus, hati. Rasulullah Saw pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, tetapi Allah memandang hati dan amal kalian.” 

Jalaluddin Rumi berkata: “Ka’bah sejati bukanlah bangunan batu. Ka’bah itu adalah hati seorang kekasih Allah. Pergilah thawaf di sekitarnya.” Maka seorang sufi melihat hatinya sebagai ruang suci. Jika Ka’bah di Makkah menjadi aman bagi semua orang, maka hati juga harus begitu, siapapun yang singgah di dalamnya, apapun latar belakangnya, harus merasa aman.

Maqam Ibrahim; Kedudukan Kedekatan.

Ayat itu juga memerintahkan, “Jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” Secara zahir, maqam Ibrahim adalah batu pijakan Nabi Ibrahim As saat membangun Ka’bah. Namun dalam tafsir sufi, maqam Ibrahim adalah kedudukan spiritual Ibrahim As, yaitu kepasrahan yang sempurna (Ikhlas). 

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis: “Maqam Ibrahim adalah maqam kepasrahan. Barangsiapa beribadah di maqam itu, ia seakan menanggalkan segala kehendak selain kehendak Allah.” Shalat di maqam Ibrahim berarti menyembah Allah Swt dengan spirit Ibrahim -ketaatan murni tanpa sisa-. 

Ismail dalam Jiwa

Kisah Ismail adalah kisah cinta yang diuji. Nabi Ibrahim As diperintahkan menyembelih anaknya, bukan untuk menumpahkan darah, melainkan untuk memutus ikatan. Ibnu ‘Arabi menafsirkan, “Ismail adalah simbol keterikatan hati manusia pada selain Allah Swt. Perintah penyembelihan adalah perintah untuk menyembelih segala belenggu itu.” Setiap orang punya Ismail dalam dirinya; harta, ambisi, jabatan, bahkan egonya sendiri. Selama Ismail belum disembelih, kita belum sampai pada maqam tauhid. Allah Swt tidak mau diduakan, Cinta-Nya harus murni. 

Kotoran Batin dan Pembersihan Rumah

Allah Swt memerintahkan Nabi Ibrahim AS dan Ismail As, “Bersihkanlah rumah-Ku.” Jika secara lahiriah Ka’bah dibersihkan dari berhala, maka secara batin hati dibersihkan dari penyakit, iri, dengki, sombong, tamak, dan syahwat yang menyesatkan itulah kotoran batin. Rumi menulis dengan puitis; “Bersihkanlah rumah hatimu dari tikus nafsu dan kelelawar syahwat, agar Sang Cahaya bisa tinggal di dalamnya.” Karena rumah yang kotor tidak layak bagi tamu Agung. 

Thawaf dan Kegiatan Sehari-hari

Allah Swt menyebut orang-orang yang thawaf, i’tikaf, rukuk, dan sujud. Dalam makna lahiriah, itu amalan haji dan umroh. Tetapi dalam tafsir sufi, thawaf adalah putaran kegiatan sehari-hari dalam sepekan. Hidup ini thawaf mengelilingi pusat yang dicintai. 

Lantas, siapa pusat hidup kita ? Ibnu ‘Arabi menulis, “engkau adalah hamba dari apa yang kamu kelilingi. Jika kamu berthawaf pada dunia, engkau hamba dunia. Jika kamu berthawaf pada Allah Swt, engkau adalah hamba-Nya.” Maka, setiap aktivitas harian adalah thawaf. Jika pusatnya Allah Swt, maka semua akan menjadi ibadah. 

Cinta sebagai Kesetiaan

Kisah Nabi Ibrahim As adalah kisah janji. Janji bahwa hati ini hanya milik Allah Swt. Janji untuk tidak menduakan-Nya. Seorang sufi berkata: “Hati adalah singgasana Allah Swt, jangan dudukkan selain Dia di atasnya.” Cinta kepada Allah Swt bukan sekadar rasa, tetapi butuh kesetiaan. Sebagaimana Nabi Ibrahim As tetap setia, meski ia diperintah untuk menyembelih sesuatu yang paling dicintainya. 

Ka’bah dalam Diri

Maka sesungguhnya ayat diatas bukan sekadar kisah sejarah, melainkan cermin batin. Ka’bah bukan hanya di Makkah, tetapi terdapat di dalam dada. Thawaf bukan hanya di tanah haram, tetapi juga dalam kehidupan. Kotoran bukan sekadar kotoran lahir, tetapi juga penyakit jiwa atau batin. Rumi menutup dengan kalimat penuh Cahaya, “Janganlah mencari Ka’bah di tanah Makkah, jika kamu belum membangun Ka’bah di dalam hatimu. Ka’bah batu itu akan sirna, tetapi Ka’bah hati tidak akan pernah lenyap”. 

Tasawuf mengajarkan; bersihkanlah hati, sembelihlah Ismail, dan biarkan Allah Swt menjadi pusat thawaf hidup. Hanya dengan begitu, hati akan benar-benar menjadi Baitullah rumah yang aman, rumah yang suci, rumah tempat "Cahaya Allah Swt bersemayam".

Allahumma Yassirlana.. 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds