Depok. Betapa indah malam penuh ibadah, ia mampu mencerahkan hati di pagi hari, kutak
mau lekas puas, segera kubuka kembali lembaran mushaf, kudapati sinar hidayah
menggoda tuk dihampiri, Sang Pencipta nan mulia berfirman, artinya: “sesungguhnya kami menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qadr (malam
kemuliaan)” (Q.S. Al Qadr (97): 1) darinya kutahu bahwa ada sebuah malam nan
begitu mulia, bernilai lebih baik dari seribu bulan.
Kucoba fahami lebih dalam lagi, mengapa malam ini begitu mulia? ternyata
milyaran malaikat turun menyesakki bumi membawa berbagai macam urusan dengan
idzin Tuhan mereka, maka malam itu menjadi penuh keselamatan hingga terbit
fajar, Subhanaallah! Ternyata malam itulah yang pantas dipilih untuk
diturunkan Al Quran nan mulia. maka berhimpunlah dua kemuliaan pada malam itu,
yaitu kemuliaan Lailatul Qadr dan kemuliaan Al Quran.
Kembali kubertanya, mengapa dia diturunkan di malam-malam ganjil di sepuluh
hari terakhir Ramadhan, sekaligus disunnahkan padanya untuk beri'tikaf? Mengapa
bukan di sepuluh pertama atau kedua? Subhanallah keterpukauan ini semakin
bertambah, karena Allah mengkehendaki kita menjumpai malam tersebut dalam
keadaan diri telah mencapai kemuliaannya, sehingga hanya orang-orang yang
memuliakan dirinya dengan beribadah sajalah yang akan memperoleh kemuliaan
malam tersebut.
Maka kutak habis berpikir, bila masih ada diantara kita yang merindukan
kebaikan lailatul Qadr namun dia tidak berusaha memuliakan dirinya dengan
taqwa. Masih adakah yang mencari kemuliaan diserakan sampah dunia, dengan
meninggalkan lumbung permata Ramadhan? Sempatkanlah diri untuk beri’tikaf meski
sesaat.
Tulis Komentar