Madinah – Suatu hari bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri yang merupakan momen untuk berbahagia bagi seluruh Kaum Muslim, setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Namun, ternyata di momen seharusnya penuh suka cita itu, masih ada sebagian orang yang bersedih karena tidak bisa merayakan Idul Fitri sebagaimana mestinya.
Seorang ulama abad ke-13, Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad As-Syakir Al-Khuwairy dalam Kitab Durratun Nashihin (hal. 278), menjelaskan salah satu hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik Ra, mengisahkan sosok anak yatim yang bersedih di hari raya Idul Fitri.
Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah Saw berangkat atau pulang dari melaksanakan shalat ‘Id, di perjalanan beliau melihat begitu banyak anak-anak bermain dengan cerianya. Tetapi, Rasulullah Saw terkejut melihat di hadapannya ada seorang anak kecil seorang diri dengan pakaian kumal sembari menangis. Karena merasa iba, Rasulullah Saw pun bertanya, “Wahai anak kecil, apa yang membuatmu menangis. Kenapa tidak ikut bermain bersama teman-temanmu?”. Si anak kecil tidak tahu, bahwa yang di hadapannya adalah seorang Rasul. Anak itu menjawab, “Wahai bapak di hadapanku, ayahku telah meninggal dunia saat mengikuti suatu peperangan bersama Rasulullah Saw, setelah itu ibuku menikah lagi dan memakan semua harta-hartaku. Kemudian bapak tiriku mengusirku dari rumah”. “Sejak itu, aku pun tidak lagi memiliki makanan, minuman, pakaian dan rumah. Ketika telah sampai hari ini (Idul Fitri), aku melihat begitu banyak anak-anak berbahagia dengan ayah-ayah mereka, aku pun sedih dan menangis”.
Setelah mendengar penjelasan anak yatim itu, Rasulullah Saw merasa begitu iba dan bermaksud untuk merawatnya. “Wahai anak kecil, bersediakah jika aku menjadi bapakmu, ‘Aisyah menjadi ibumu, Ali menjadi pamanmu, Hasan dan Husein menjadi kedua saudara laki-lakimu, dan Fatimah menjadi saudara perempuanmu?” tawar Rasulullah.
Akhirnya, anak itu pun tahu bahwa seorang bapak di hadapannya itu ternyata Rasulullah Saw. “Bagaimana mungkin aku tidak senang wahai Rasulullah,” jawab si anak dengan penuh gembira. Kemudian Rasulullah Saw membawa pulang ke rumahnya. Memberi pakaian yang indah, makan sampai kenyang, menghiasi dan memberi minyak wangi yang harum. Sekarang, anak yatim itu bisa bermain dengan penuh tawa bahagia bersama teman-teman seusianya.
Melihat itu, anak-anak yang lain merasa penasaran, “Bukannya engkau anak yang pemurung dan menangis, mengapa sekarang terlihat begitu bahagia?” tanya mereka penasaran. Anak yatim itu menjawab, “Memang, tadinya aku kelaparan, tetapi sekarang aku kenyang, pakaianku biasa buruk, kini sudah tidak lagi. Aku seorang yatim, tetapi kini Rasulullah Saw adalah ayahku, ‘Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudara laki-lakiku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?” Anak-anak yang mendengar pengakuan itu merasa iri. “Andai saja bapak kami syahid saat peperangan, pasti sudah seperti engkau.” Setelah Rasulullah Saw wafat, anak itu kembali terlunta sebagai akan yatim. Kemudian diasuh oleh Abu Bakar Ra.
Dari kisah Rasulullah Saw dan anak yatim di atas memiliki beberapa pelajaran penting yang perlu kita teladani. Diantaranya:
Pertama, momen Idul Fitri merupakan momen berbahagia. Patut kita syukuri, namun jangan sampai larut dalam kebahagiaan diri dan keluarga tetapi melupakan nasib orang lain.
Kedua, pentingnya rasa tanggung-jawab. Sebagai Nabi dan kepala negara, Rasulullah Saw memiliki rasa tanggung-jawab penuh terhadap rakyatnya. Ketika beliau melihat ada seorang anak yatim yang ayahnya meninggal dunia karena peperangan, dengan sifat kepemimpinannya, Rasulullah Saw merasa bertanggung-jawab dan tanpa pikir panjang mengadopsinya.
Ketiga, anjuran mengasihi anak yatim. Rasulullah Saw memberikan contoh bagi umatnya untuk selalu menyantuni dan mengasihi anak yatim dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Dalam satu hadits diriwayatkan Abu Dawud Ra, Rasulullah Saw bersabda; "Aku dan pengasuh anak yatim adalah seperti ini di surga (sembari menunjukkan dua jari yang ditempelkan)." (Tafsir Ibnu Katsir Juz VIII: 468).
Hadits di atas menunjukkan betapa besar keutamaan yang diperoleh orang yang merawat dan mengurus anak yatim. Sehingga betapa begitu dekatnya, diibaratkan seperti dua jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang berdampingan’ ini menunjukkan balasan mulia bagi orang yang mengurus anak yatim, dapat masuk surga dengan kedudukan tinggi di dalamnya.
Mari, jadikan momen Idul Fitri yang penuh bahagia ini bersama keluarga, juga momen untuk saling berbagi kebahagiaan kepada sesama, terlebih mereka yang keadaan fakir, miskin dan yatim. Barokallahu fii kum.
Tulis Komentar