Keterangan Gambar : Flyer Spesial Kajian Taklim Nurul Bayan
Boponter - Dalam lanjutan Kajian Malam Rabu 23 Juni 2026, Majlis Ta’lim Nurul Bayan Unit Masjid Jami’ Al Ittihad, Bojong Pondok Terong, Cipayung, Kota Depok, Syaikhuna KH. DR. Marullah Matali, LC, M.Ag membahas Kitab Nashoihud Diniyyah karya Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Kitab ini mengajarkan bahwa untuk meraih cinta dan penjagaan Allah Swt, seorang hamba harus merealisasikan ketaatan dan cintanya karena Allah Swt dalam kehidupan sehari-hari.
Memiliki rasa cinta karena Allah Swt termasuk kedudukan yang tinggi dan mulia disisi-Nya. Dalam hal ini, Allah Swt berfirman: …“Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah…” (OS. Al-Baqarah : 165).
Bahkan dijelaskan dalam sebuah hadits dari Anas, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” (H.R. Bukhari Muslim).
Makna cinta karena Allah Swt adalah kecondongan, ikatan dan kasmaran yang dirasakan oleh seorang hamba dalam hatinya kepada Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, disertai dengan penyucian, pengagungan, juga rasa takut kepada Allah Swt tanpa terselubungi oleh penyerupaan-Nya dengan sesuatupun apalagi bayangan penggambarannya dengan benda yang lain, sungguh Maha Tinggi Allah Swt dari segala penyerupaan.
Sehingga Allah Swt menjelaskan dalam firman-Nya: …..“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya…..” (QS. Al-Maidah ayat: 54).
Termasuk sikap yang paling besar menunjukkan cinta kepada
Allah Swt adalah mengikuti jejak Rasulullah Saw dengan baik dan benar. Dalam
hal ini, Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap
ayat-
ayat Allah dan mereka membunuhi para nabi tanpa alasan yang dapat
dibenarkan dan mereka membunuhi sebagian orang yang menyuruh kepada
keadilan, maka beritahukan kepada mereka tentang siksa yang amat menakutkan.” (OS.
Ali Imran: 21).
Orang-orang yang benar-benar mencintai Allah Swt pasti kecintaannya mendorong untuk lebih mementingkan Allah Swt daripada selain-Nya, dan lebih menggiatkannya dalam menempuh jalan mendekatkan diri dan menggapai Ridho-Nya.
Berikut inti ajaran cinta dan perlindungan Allah Swt berdasarkan kitab Nashoihud Diniyyah:
Pertama. Cinta Kepada dan Karena Allah (Mahabbah). Menurut Imam Al-Haddad, puncak cinta seorang hamba adalah mencintai Allah Swt dengan sepenuh hati, yang dibuktikan dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu, beliau menekankan pentingnya konsep Hubab Fillah (cinta karena Allah). Seseorang yang mencintai saudaranya, gurunya, atau sesama muslim murni karena Allah Swt (bukan karena kepentingan duniawi), maka ia akan mendapatkan naungan dan manisnya iman.
Kedua. Konsep Cinta dan Perlindungan (Hifzhullah). Cinta dan perlindungan Allah Swt itu dua hal yang saling berkaitan. Rasulullah Saw bersabda, "Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau menjumpai pertolongan Allah ada di hadapanmu”. (HR. Tirmidzi 2516, maktabatu al ma’arif riyadh).
Dalam konteks Nashoihud Diniyyah, menjaga Allah berarti menjalankan kewajiban agama dan menjauhi maksiat. Jika kita menjaga hak-hak Allah, maka Allah Swt akan melindungi kita dari bahaya dunia dan akhirat. Tipu daya setan dan hawa nafsu. Kesulitan hidup yang menjauhkan diri dari-Nya.
Ketiga. Cara Meraih Cinta dan Perlindungan-Nya. Untuk mendapatkan perlindungan dalam cinta Allah Swt, Imam Haddad menyarankan beberapa amalan praktis, Bertaubat secara sungguh-sungguh dari segala dosa. Meningkatkan ketakwaan dalam kondisi lapang maupun sempit. Memperbanyak dzikir dan senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt (Muraqabah). Bersabar dan bersyukur atas segala ketentuan (qadha dan qadar) dari Allah Swt. Dengan mengamalkan nasihat-nasihat tasawuf yang praktis, hati akan senantiasa tenang karena berada dalam penjagaan dan naungan rahmat Allah Swt.
Adapun mengenai Ridho kepada Allah Swt merupakan suatu sifat yang sangat mulia. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya “Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Maidah : 119).
Orang yang ridha kepada Allah Swt adalah yang menerima ketentuan-Nya, apapun ketentuan-Nya sekalipun bertentangan dengan keinginannya. Meskipun demikian ia menerimanya dengan lapang dada, tidak marah dan benci terhadap ketentuan Allah Swt. Karena Allah Swt berhak melakukan apa saja yang Dia kehendaki atas kekuasaan-Nya.
Wallahua’lam bishshowab.
Kontributor : Sekretaris DMI Boponter.
Tulis Komentar